Senin, 02 Februari 2026

Majelis Ulama Indonesia dalam Lintasan Sejarah Syarikat Islam

Telaah atas Jalinan Keutuhan Umat Islam
Baringin MH Pulungan - Senin, 02 Februari 2026 20:22 WIB
Majelis Ulama Indonesia dalam Lintasan Sejarah Syarikat Islam
Jon Masren Saragih, S.Pd.I
, MPOL - Perjalanan umat Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran organisasi keislaman yang menjadi pilar pemersatu umat di tengah dinamika zaman. Dalam lintasan sejarah itu, Syarikat Islam (SI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menempati posisi penting sebagai dua entitas yang, meski lahir pada periode berbeda, memiliki benang merah perjuangan yang sama: menjaga aqidah, memperkuat ukhuwah, serta membimbing umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:

Syarikat Islam, yang berdiri pada awal abad ke-20, merupakan salah satu organisasi pergerakan Islam tertua di Indonesia. SI tidak hanya hadir sebagai gerakan ekonomi dan sosial, tetapi juga sebagai kekuatan moral yang menanamkan kesadaran keislaman dan kebangsaan. Dalam masa penjajahan, SI menjadi wadah perjuangan yang menegaskan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan juga sumber nilai perjuangan melawan ketidakadilan. Spirit inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi lahirnya berbagai lembaga keumatan di masa berikutnya.


Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia yang berdiri pada tahun 1975 hadir dalam konteks yang berbeda, yakni masa pembangunan nasional. MUI berfungsi sebagai wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim untuk membimbing, melayani, serta mengayomi umat Islam Indonesia. Jika SI berperan kuat dalam membangkitkan kesadaran kolektif umat pada masa perjuangan fisik dan ideologis, maka MUI mengambil peran strategis dalam menjaga kemurnian ajaran Islam, memberikan fatwa, serta menjadi jembatan antara umat dan pemerintah dalam persoalan keagamaan.


Keterhubungan historis antara SI dan MUI terletak pada kesamaan visi menjaga keutuhan umat. Keduanya menempatkan Islam sebagai sumber nilai moral, sosial, dan kebangsaan. SI menanamkan kesadaran bahwa umat harus bersatu dalam menghadapi tantangan zaman, sedangkan MUI menegaskan pentingnya persatuan itu melalui panduan keagamaan yang menyejukkan dan moderat. Dalam konteks ini, MUI dapat dilihat sebagai kelanjutan peran keumatan yang dulu diperjuangkan SI, namun dalam bentuk kelembagaan yang lebih terfokus pada otoritas keilmuan dan fatwa.


Jalinan keutuhan umat Islam menjadi titik temu paling kuat. Di tengah keragaman mazhab, organisasi, dan latar belakang sosial, baik SI maupun MUI menekankan prinsip ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. SI menanamkan persaudaraan dalam semangat kebangkitan nasional, sedangkan MUI menguatkannya melalui seruan persatuan, toleransi, dan keseimbangan antara komitmen keislaman dan keindonesiaan.


Dalam realitas kekinian, tantangan umat semakin kompleks: arus globalisasi, perbedaan pemahaman keagamaan, hingga polarisasi sosial. Di sinilah relevansi historis hubungan nilai antara SI dan MUI semakin terasa. Warisan perjuangan SI mengajarkan keberanian moral dan kemandirian umat, sementara peran MUI meneguhkan arah dan batasan syar'i agar umat tetap berada dalam koridor ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.


Dengan demikian, menelaah MUI dalam lintasan sejarah Syarikat Islam bukan sekadar membaca masa lalu, tetapi memahami kesinambungan misi keumatan. Keduanya adalah bagian dari mata rantai perjuangan Islam di Indonesia—yang satu menyalakan obor kesadaran, yang lain menjaga nyalanya tetap terang. Dari sinilah keutuhan umat Islam menemukan pijakan sejarah dan arah masa depan: bersatu dalam iman, bijak dalam perbedaan, dan kokoh dalam kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan. (nas)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru