Sabtu, 21 Februari 2026

Kepemimpinan Yang Hadir di Tengah Warga

Penulis:drg Tina Arriani M.Kes.,Ph.D.,CPPS.,CHMC
Redaksi - Sabtu, 21 Februari 2026 20:25 WIB
Kepemimpinan Yang Hadir di Tengah Warga
drg Tina Arriani M.Kes.,Ph.D.,CPPS.,CHMC
, MPOL - Bagi warga Medan, banjir bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan pengalaman kolektif yang bertahun-tahun dianggap "tak terelakkan".

Baca Juga:
Di kawasan Letda Sujono, hujan sebentar saja dulu cukup untuk melumpuhkan aktivitas warga. Namun beberapa bulan terakhir, realitas itu mulai berubah.

Banjir yang biasanya datang rutin, kini tidak lagi menjadi cerita mingguan. Perubahan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kepemimpinan yang memilih hadir langsung di lapangan.

Memimpin kota sebesar Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. Kompleksitas masalah yang dirasakan warga mulai dari banjir, kesehatan, hingga pelayanan public telah lama menjadi beban struktural yang menumpuk dari tahun ke tahun.

Karena itu, menilai kepemimpinan Wali Kota Medan hanya dari rentang waktu singkat tanpa melihat arah dan prosesnya akan menjadi penilaian yang tidak adil.

Wali Kota Medan,Rico Tri Putra Bayu Waas, menunjukkan pendekatan yang relatif jarang turun rutin setiap Sabtu bersama lurah dan perangkat kelurahan untuk gotong royong membersihkan parit dan saluran air.

Pendekatan ini sederhana, bahkan mungkin dianggap "terlalu teknis" bagi sebagian pihak. Namun justru di situlah letak kekuatannya menyentuh akar masalah, bukan sekadar retorika kebijakan. Langkah ini memperlihatkan satu asumsi penting yang layak diuji bahwa persoalan banjir perkotaan tidak selalu harus diselesaikan dengan proyek besar bernilai triliunan.

Dalam banyak kasus, problem utamanya adalah tata kelola drainase dan disiplin pemeliharaan lingkungan. Ketika pemerintah kota Medan hadir secara konsisten, warga pun terdorong untuk ikut menjaga.


Di sektor kesehatan, perubahan juga mulai terasa. Penghapusan PBI yang sebelumnya menimbulkan kecemasan di masyarakat tidak berujung pada eksklusi layanan. Sebaliknya, skema Universal Health Coverage (UHC) dan UHC Prioritas justru memastikan seluruh warga Medan, bahkan Sumatera Utara, tetap terlayani di fasilitas Kesehatan merupakan langkah penting, meski harus diakui belum bebas tantangan.

Sebagai contoh kami di RSUD H, Bachtiar Djafar Medan sudah tidak ada kendala melayani pasien BPJS kesehatan(PBI,Non PBI,Unregister,dinas sosial,BPJS ketenakerjaaan dan UHC Medan dan UHC prioritas warga hanya membawa KTP untuk berobat dapat kami layani sesuai prosedur yang ada.

Masalah klasik rumah sakit—antrian panjang, keterbatasan SDM, dan sarana prasarana tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah pasien yang "ditanggung".

Di sinilah kebijakan penataan alur hulu melalui penguatan puskesmas menjadi krusial. Ketika layanan primer berfungsi optimal, rumah sakit tidak lagi menjadi bottleneck (kendala kritis) sistem kesehatan.

Namun jujur harus dikatakan, tanpa penataan ulang tata kelola rumah sakit mulai dari manajemen, distribusi tenaga, hingga sistem rujukan beban ini akan kembali menumpuk. Perubahan sudah tampak, tetapi keberlanjutannya perlu diawasi.


Aspek lain yang patut dicatat adalah dukungan terhadap UMKM. Pemberian 100 label halal bagi pelaku UMKM Medan bukan sekadar simbol administratif. Ia mencerminkan pemahaman bahwa ekonomi kerakyatan tidak tumbuh hanya dengan slogan, melainkan dengan fasilitasi konkret agar produk lokal bisa naik kelas dan masuk pasar yang lebih luas.


Langkah-langkah di atas sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto khususnya pada aspek kehadiran pemerintah kota dalam pelayanan dasar, penguatan ekonomi rakyat, dan pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.


Kepemimpinan yang responsif hari ini harus dijaga agar tidak bergantung pada figur semata. Tantangan berikutnya adalah memastikan semua inisiatif ini terinstitusionalisasi menjadi sistem, bukan sekadar aksi personal. Tanpa itu, perubahan mudah menguap ketika kepemimpinan berganti.


Bagi wargaMedan slogan Medan untuk semua semua untuk Medan banjir yang berkurang dan akses kesehatan yang lebih terjamin bukan isu abstrak tapi merupakan kualitas hidup.

Dan ketika pemimpin kota mulai terasa lebih dekat dengan keseharian warga, di situlah kepercayaan publik perlahan tumbuh. Perubahan memang tidak datang sekaligus, tetapi tanda-tandanya kini nyata, dan itu patut dicatat dengan jujur.

Kita harus dukung kepemimpinan Bapak walikota Medan Rico Tri Putra Banyu Waas dengan ikut terlibat dalam pengendalian banjir memelihara kebersihan lingkungan gotong royong tidak buang sampah sembarangan ke selokan atau ke Sungai dan menjaga Kesehatan diri dan keluarga agar bisa terwujud Medan untuk semua semua untuk Medan.

Penulis adalahKepala Seksi Rekam Medis dan akreditasi RSUD H.Bachtiar Djafar

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru