Sabtu, 14 Maret 2026

Kemenperin Ungkap Kinerja, Investasi, dan Tantangan Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Redaksi - Sabtu, 14 Maret 2026 18:29 WIB
Kemenperin Ungkap Kinerja, Investasi, dan Tantangan Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Jakarta, MPOL -Industri Agro jadi andalan ekonomi Indobesia demikian Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, dalam diskusi Dialektika Demokrasi yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI Kamis (12/3) di DPR RI Jakarta.

Baca Juga:
Menurutnya Pemerintah menempatkan sektor industri agro sebagai salah satu motor utama untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Meski menghadapi tekanan global dan sejumlah kendala struktural, sektor ini masih menunjukkan kinerja kuat, baik dari sisi perdagangan, investasi, maupun penyerapan tenaga kerja.

Industri agro masih menjadi penopang utama sektor manufaktur nasional. Pada 2025, pertumbuhan industri agro tercatat sebesar 4,95 persen, sedikit menurun dibandingkan 5,20 persen pada 2024.

Perlambatan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global yang turut berdampak pada permintaan dan rantai pasok industri. Meski demikian, kinerja sektor ini tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Neraca perdagangan industri agro mencatat surplus 57,54 miliar dolar AS pada 2025. Angka tersebut bahkan melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.

"Industri agro memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas."

Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan daya tarik yang kuat. Sepanjang 2025, nilai investasi industri agro mencapai Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi di sektor industri pengolahan.

Investasi tersebut terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri sekitar Rp100 triliun. Menurut Merrijantij, angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri agro Indonesia.

Selain menjadi penyumbang devisa, sektor ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Industri agro saat ini menyerap sekitar 10 juta pekerja secara langsung di berbagai subsektor.

Di sisi lain, kapasitas produksi industri agro masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Kemenperin mencatat tingkat utilisasi atau kapasitas terpasang sektor ini baru mencapai sekitar 57,28 persen.

"Artinya masih ada peluang untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor."

Indikator lain yang menunjukkan optimisme industri adalah Indeks Kepercayaan Industri (IKI) atau PMI manufaktur yang dirilis Kemenperin. Pada Februari 2026, indeks tersebut berada di atas angka 50 yang menandakan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi.

Merrijantij menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural untuk memperkuat industri agro, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga besarnya pasar domestik.

Komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, kopi, rempah-rempah, hingga hasil perikanan dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, pasar domestik Indonesia sangat besar. Ini menjadi peluang bagi pengembangan industri berbasis bahan baku lokal," kata dia.

Pemerintah juga mendorong kebijakan strategis seperti program biodiesel B50 untuk memperkuat pemanfaatan komoditas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.

Selain itu, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan sertifikasi halal dinilai menjadi peluang tambahan bagi produk agro Indonesia untuk memperluas pasar.

Namun demikian, sektor industri agro masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap impor bahan baku tertentu seperti kakao, kopi, dan kedelai.
Menurut Merrijantij, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan industri tidak selalu diikuti peningkatan produksi sektor pertanian secara seimbang.

Tantangan lain datang dari keterbatasan teknologi, inovasi, serta tingginya biaya faktor produksi, termasuk energi, air, logistik, dan bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat harga pokok produksi industri di Indonesia relatif tinggi dibandingkan produk impor.

"Akibatnya daya saing produk dalam negeri di pasar global masih menghadapi tekanan." Kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, terutama dalam menghadapi percepatan transformasi teknologi di sektor industri.

Karena itu, Merrijantij menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat sektor industri agro.

Upaya strategis yang perlu dilakukan antara lain peningkatan produksi bahan baku domestik, penguatan inovasi teknologi, efisiensi biaya produksi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Dengan langkah-langkah tersebut, industri agro diharapkan dapat terus menjadi penggerak utama perekonomian nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen," tutur Merrijantij.

Sedangkan anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan pentingnya penguatan sektor industri sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif. Novita menilai sektor industri memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

"Penguatan industri nasional harus dilakukan secara terintegrasi melalui kebijakan yang berpihak pada pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap pelaku usaha," kata Novita berbicara dalam Dialektika Demokrasi dengan tema "Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen."

Ia menjelaskan bahwa sektor industri tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan industri berjalan konsisten, termasuk melalui dukungan regulasi, investasi, serta penguatan rantai pasok dalam negeri.

Sebagai anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi, riset, teknologi, serta perindustrian, Novita menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset menjadi kunci untuk mendorong inovasi dan meningkatkan produktivitas industri nasional. Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki secara optimal.

Ia juga mendorong agar pengembangan industri nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan, pemerataan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat, tutur Novita. (ZAR)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru