Rabu, 01 April 2026

Menunda Persiapan Hari Tua Jadi Kesalahan Umum, Ini Cara Hitung Kebutuhanmu

Hendro - Rabu, 01 April 2026 20:11 WIB
Menunda Persiapan Hari Tua Jadi Kesalahan Umum, Ini Cara Hitung Kebutuhanmu
Jakarta, MPOL - Bagi Sari (30), mempersiapkan dana hari tua bukanlah prioritas utama. Sebagai pekerja sekaligus anak yang membantu orang tua, sebagian besar penghasilannya dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga. Hingga suatu saat ia mulai bertanya, apakah kondisi yang sama akan terulang ketika dirinya memasuki usia pensiun nanti.

Baca Juga:
Kisah ini bukan hal yang jarang terjadi. Bagi banyak orang, khususnya perempuan yang sering memegang peran ganda dalam keluarga, perencanaan hari tua masih kerap ditunda. Padahal, kebiasaan menunda justru menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam pengelolaan keuangan jangka panjang.

Realitanya, kondisi ini semakin mengkhawatirkan. Survei menunjukkan sekitar 63 persen pekerja di Indonesia belum memiliki dana hari tua, yang berpotensi membuat banyak orang tetap bekerja di usia lanjut atau bergantung pada orang lain. Hal ini menjadi semakin krusial seiring Indonesia menuju populasi menua, di mana masa pensiun dapat berlangsung lebih panjang dari yang dibayangkan.

Di sisi lain, kebutuhan di masa depan juga terus meningkat. Biaya kesehatan naik seiring bertambahnya usia, sementara biaya hidup juga terus meningkat. Tanpa perencanaan yang matang, risiko kehabisan dana di masa tua menjadi semakin nyata.

Priskilla Fachruddin, Certified Financial Planner Prudential Indonesia, menjelaskan bahwa langkah awal dapat dimulai dengan dua pertanyaan sederhana: kapan ingin berhenti bekerja dan gaya hidup seperti apa yang diinginkan di masa tua. "Dalam mempersiapkan masa hari tua, kita perlu bertanya pada diri sendiri: pada usia berapa ingin berhenti bekerja dan gaya hidup seperti apa yang diinginkan. Dari sini, seseorang bisa mulai menentukan alokasi pendapatan setiap bulan, lalu menjalankannya secara disiplin dan konsisten," jelas Priskilla.

Untuk memperkirakan kebutuhan dana yang dibutuhkan saat masa pensiun, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melakukan perhitungan dana masa depan berdasarkan persentase dari dana yang dibutuhkan untuk gaya hidup saat ini:

● 75–80 persen dari kebutuhan dana saat ini untuk gaya hidup lebih sederhana,
● 90–100 persen dari kebutuhan dana saat ini untuk mempertahankan gaya hidup seperti saat ini,
● 120–125 persen dari kebutuhan dana saat ini untuk gaya hidup lebih aktif, seperti traveling atau mengejar hal yang tertunda.
Pendekatan ini dapat menjadi acuan awal yang kemudian disesuaikan dengan kondisi dan rencana hidup masing-masing.

Sebagai ilustrasi, Sari (30), seorang karyawan dengan penghasilan Rp10 juta per bulan, mulai merencanakan masa depannya. Ia menargetkan pensiun di usia 55 tahun dengan gaya hidup yang lebih sederhana, termasuk membuka usaha bakery rumahan sebagai impian jangka panjang.

Dalam konteks ini, perencanaan yang konsisten dan terarah menjadi kunci. Salah satu solusi yang dapat mendukung adalah melalui Asuransi Jiwa PRUMapan, produk asuransi jiwa tradisional dari Prudential Indonesia yang dirancang untuk membantu generasi milenial dan Gen Z menyiapkan perencanaan keuangan jangka panjang secara terjangkau, fleksibel, dan mudah diakses.

Jika Sari (30) membayar premi Asuransi Jiwa PRUMapan sebesar Rp700 ribu per bulan hingga usia mapan di 55 tahun, Sari akan mendapatkan pembayaran manfaat dana mapan sebesar Rp485,100,000 atau Rp23,1 juta per tahun, selama 21 tahun atau hingga usia 75 tahun saat polis berakhir. Namun, jika Sari mulai 5 tahun lebih awal di usia 25 tahun, dengan premi bulanan yang sama, ia bisa mendapatkan manfaat dana mapan lebih besar yaitu Rp662,970,000 atau Rp31,57 juta per tahun selama periode yang sama.

Dengan nominal Rp700 ribu per bulan, atau kurang dari 10% dari penghasilan bulanan, Sari sudah mulai membangun fondasi dana masa depan secara bertahap. Sebagai perbandingan, bagi banyak pekerja muda di kota besar, pengeluaran untuk hiburan, langganan digital, hingga ngopi dapat dengan mudah melebihi angka tersebut setiap bulannya.

Dengan konsistensi, alokasi yang relatif kecil ini dapat berkembang menjadi sumber dana yang membantu menjaga kestabilan finansial di masa pensiun, sekaligus membuka peluang untuk mewujudkan rencana jangka panjang, seperti memulai usaha atau mengejar passion yang sempat tertunda. Inilah mengapa memulai lebih awal, meski dengan nominal yang terjangkau, menjadi langkah penting dalam membangun kesiapan finansial jangka panjang.

Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, mengatakan, "Semakin banyak orang Indonesia yang memiliki harapan hidup lebih panjang. Namun, masih banyak yang belum yakin apakah mereka dapat menikmati masa tua dengan nyaman. Bagi generasi muda, tantangan finansial saat ini bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga rasa aman terhadap masa depan. Untuk itu, PRUMapan dirancang agar generasi muda dapat mulai merencanakan masa depan mereka sejak dini, dengan cara yang terjangkau, fleksibel, dan terarah, sehingga tetap bisa produktif hari ini sekaligus mempersiapkan kemandirian finansial di masa depan."

Mempersiapkan dana hari tua memang tidak harus dimulai dengan langkah besar. Namun yang terpenting adalah memulainya sedini mungkin, dengan perencanaan yang jelas serta disiplin dalam menjalankannya. Dengan langkah yang konsisten, setiap individu dapat membangun kesiapan finansial yang lebih kuat untuk menghadapi masa depan. (Dro/R).

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru