Medan , MPOL -Prosesi wisuda Universitas Negeri Medan (
Unimed) berlangsung dalam suasana bahagia dan penuh kebanggaan. Ribuan wisudawan dan orang tua memenuhi gedung Auditorium
Unimed dengan wajah ceria, menyaksikan momentum bersejarah yang menandai berakhirnya satu fase dan dimulainya perjalanan baru (12/2/26).
Baca Juga:
Di tengah suasana tersebut, Ketua Senat
Unimed,
Prof. Dr. Syawal Gultom, menyampaikan orasi yang menitikberatkan pada pentingnya kemandirian finansial, perubahan pola pikir, serta kesiapan menghadapi disrupsi global.
Berbeda dari pidato wisuda pada umumnya, Prof. Syawal tidak hanya berbicara tentang kebanggaan akademik, tetapi mengarahkan perhatian para wisudawan pada realitas kehidupan setelah kampus.
Prof. Syawal mengingatkan bahwa dunia kerja saat ini berubah sangat cepat. Gelar sarjana bukanlah jaminan keberhasilan, melainkan tiket awal untuk memasuki arena kompetisi yang sesungguhnya.
Dalam orasinya, Prof. Syawal menekankan bahwa setiap lulusan harus memiliki perencanaan hidup yang jelas. Karier, menurutnya, tidak boleh dijalani tanpa arah.
Prof. Syawal mendorong para wisudawan untuk menyusun target jangka pendek dan jangka Panjang setelah diwisuda.
"Kesuksesan tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dirancang dengan disiplin," tegasnya.
Salah satu fokus utama yang disorotinya adalah literasi finansial. Prof. Syawal menilai bahwa banyak lulusan perguruan tinggi bekerja puluhan tahun namun tidak memiliki perencanaan investasi yang baik.
Karenanya Prof. Syawal mengingatkan agar para lulusan tidak sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi mulai memahami strategi investasi sejak awal.
Menurutnya, prinsip sederhana seperti menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi harus menjadi kebiasaan sejak dini.
Prof. Syawal menekankan bahwa tujuan bekerja bukan hanya memperoleh gaji, tetapi mencapai financial freedom atau kemandirian finansial yang memungkinkan seseorang hidup dengan martabat tanpa bergantung pada orang lain di masa tua.
Baginya, kecerdasan akademik harus diimbangi dengan kecerdasan mengelola keuangan.
Selain itu, Prof. Syawal juga menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi era digital dan kecerdasan buatan.
Menurutnya bahwa perubahan teknologi tidak bisa dihindari, sehingga lulusan harus adaptif dan terus meningkatkan kompetensi. Dunia tidak lagi mencari lulusan yang statis, melainkan pribadi yang mampu reskilling (belajar tentang keterampilan baru) dan upskilling (meningkatkan keterampilan baru) secara berkelanjutan.
Prof. Syawal mengingatkan bahwa disrupsi global bukan ancaman, melainkan peluang bagi mereka yang siap bertransformasi. Literasi teknologi, kemampuan berbahasa asing, serta kemauan belajar sepanjang hayat menjadi fondasi agar lulusan tetap relevan di tengah kompetisi.
Lebih lanjut, Prof. Syawal juga mengangkat pentingnya keberanian mengambil tanggung jawab. Dunia kerja lebih menghargai pribadi yang berani memikul beban dan menyelesaikan persoalan dibandingkan mereka yang hanya menunggu instruksi.
Tanggung jawab adalah pintu masuk menuju kepercayaan, dan kepercayaan adalah dasar kepemimpinan.
Prof. Syawal juga menyampaikan bahwa menjadi pengusaha merupakan salah satu pilihan strategis yang mampu menciptakan dampak luas.
Universitas-universitas kelas dunia seperti Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology bahkan menjadikan jumlah alumni yang menjadi pendiri perusahaan sebagai indikator keberhasilan institusi.
Namun diingatkannya bahwa menjadi pengusaha bukan sekadar soal keberanian, melainkan soal ketahanan mental dan konsistensi menghadapi risiko.
Menutup orasinya, Prof. Syawal kembali menggarisbawahi bahwa karakter tetap menjadi fondasi utama dalam segala hal. Dengan mengutip pesan Presiden Amerika Serikat ke-28, Woodrow Wilson, yang menegaskan bahwa kehilangan karakter berarti kehilangan segalanya.
Bagi Prof. Syawal, integritas adalah modal sosial yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi atau kecerdasan intelektual.
Wisuda
Unimed kali ini bukan hanya seremoni pelepasan lulusan, melainkan ruang refleksi tentang masa depan generasi muda Indonesia.
Melalui pesan-pesan yang tegas dan visioner,
Prof. Dr. Syawal Gultom mengajak para lulusan untuk membangun mental tangguh, merancang kemandirian finansial, serta siap bertransformasi menghadapi perubahan zaman.
Gelar sarjana, menurutnya, bukan akhir perjalanan, melainkan awal perjuangan untuk menjadi pribadi yang mandiri, adaptif, dan bermartabat di tengah disrupsi global.***
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News