Jumat, 13 Maret 2026

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026, Harga Emas dan Minyak Diproyeksi Masih Fluktuatif

Jalaluddin Lase - Jumat, 13 Maret 2026 06:05 WIB
ICDX Gelar Commodity Outlook 2026, Harga Emas dan Minyak Diproyeksi Masih Fluktuatif
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menggelar ICDX Commodity Outlook 2026 di Jakarta.(ist).
Pada paruh pertama, harga minyak mentah mengalami penurunan sebesar hampir 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran level $69 per barel. Pergerakan harga minyak mentah global dibayangi oleh tekanan dari perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.

Baca Juga:
Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level $62 per barel pada bulan Mei. Sebelum akhirnya kembali menguat pasca AS dan China menyepakati untuk melakukan jeda tarif selama 90 hari. Harga terus menguat hingga penutupan kuartal pertama didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca Israel melancarkan operasi "Rising Lion" ke Iran.

Namun, tren penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua, ancaman tarif AS yang lebih tinggi meskipun sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik, membuat laju minyak mentah kembali tertekan. Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada bulan Oktober lalu membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua tahun 2025. Harga rata-rata mengalami penurunan sebesar hampir 13 persen, dan diperdagangkan di kisaran level $64 per barel.

Girta Putra Yoga menambahkan, "Harapan optimis akan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal tahun 2026. Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah".

"Selain itu, ketegangan geopolitik yang mewarnai pembukaan tahun 2026 ini, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS – Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level $90 per barel pada awal Maret ini, dari sebelumnya di level $57 per barel pada awal Januari 2026", ungkap Girta Putra Yoga

Di tahun 2026 ini, Girta Putra Yoga menyatakan bahwa melihat dari situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini, diperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini. Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga $95 - $100 per barel, dan level support di kisaran harga $80 - $75 per barel. Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump.

Direktur ICDX Nursalam mengatakan, "Kami beharap, informasi yang kami sampaikan dalam Commodity Outlook 2026 ini bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini. Khusus untuk kontrak minyak mentah dan emas, kita tahu perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut".

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Jalaluddin Lase
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru