Jumat, 13 Maret 2026

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026, Harga Emas dan Minyak Diproyeksi Masih Fluktuatif

Jalaluddin Lase - Jumat, 13 Maret 2026 06:05 WIB
ICDX Gelar Commodity Outlook 2026, Harga Emas dan Minyak Diproyeksi Masih Fluktuatif
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menggelar ICDX Commodity Outlook 2026 di Jakarta.(ist).
Jakarta, MPOL -Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menggelar ICDX Commodity Outlook 2026 di Jakarta, 11 Maret 2026, dengan mengambil tema "GOLD & CRUDE OIL : "Availability, Geopolitics and Global Market". Secara umum, ICDX Commodity Outlook ini memberikan gambaran tentang harga Komoditas Crude Oil (Minyak Mentah) dan Emas di tahun 2026 ini diperkirakan akan terus bergerak. Hal ini selain karena ada faktor ekonomi global dan ketersediaan, juga akan dipengaruhi gejolak politik dunia khususnya ketegangan militer dan politik di kawasan timur tengah.

Baca Juga:
Outlook Komoditas Emas

Analis dari Reseach and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan, "Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global. Secara garis besar, sepanjang tahun 2025 untuk komoditas emas terdapat beberapa point penting. Pertama, Sepanjang 2025 harga emas naik signifikan sebesar 64% dengan 53 all time highs. Kedua, All time high tercatat $4,550/oz pada 26 Desember 2025. Ketiga, Rata-rata harga sekitar $3,431/oz, dan keempat, Pembelian emas oleh bank sentral mencapai ±863 ton".

"Beberapa sentime yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu, 3 kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps melalui keputusan FOMC, Konflik Timur Tengah (Israel - Iran), Perang AS – Ukraina, serta Ketegangan AS – China. Selain itu total pembelian emas oleh Bank Sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan pada periode 2022–2024, serta Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga turut meningkatkan alokasi ke emas. Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025", ungkap Tiffani Safinia.

Tiffani Safinia menambahkan, "Beberapa Lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026, yang didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral. Hal ini mencerminkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian agresif oleh bank sentral".

Dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran US$5.500–US$6.000 per troy ons hingga akhir tahun 2026, dengan volatilitas yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global".

Berdasarkan poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, Untuk tahun 2026 median proyeksi harga emas untuk 2026 berada di US$4.746,50 per troy ons, melonjak signifikan dibanding estimasi US$4.275 yang dirilis pada Oktober sebelumnya. Di tingkat institusional, Goldman Sachs Group Inc. merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ons, dari sebelumnya US$4.900, dengan menyoroti meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral sebagai katalis utama. J.P. Morgan juga berada di kubu optimistis dengan proyeksi harga emas mencapai US$6.300 per troy ons pada kuartal IV 2026. Sementara itu, Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata US$4.600, dengan skenario bullish mencapai US$5.700 pada paruh kedua 2026.

Outlook Komoditas Minyak Mentah

Analis dari Reseach and Development ICDX Girta Putra Yoga mengatakan, "Tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah. Laju harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan sebesar lebih dari 21 persen ke level $60 per barel pada akhir penutupan 2025, dibandingkan harga rata-rata di awal tahun yang mencapai level $77 per barel".

Pada paruh pertama, harga minyak mentah mengalami penurunan sebesar hampir 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran level $69 per barel. Pergerakan harga minyak mentah global dibayangi oleh tekanan dari perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.

Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level $62 per barel pada bulan Mei. Sebelum akhirnya kembali menguat pasca AS dan China menyepakati untuk melakukan jeda tarif selama 90 hari. Harga terus menguat hingga penutupan kuartal pertama didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca Israel melancarkan operasi "Rising Lion" ke Iran.

Namun, tren penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua, ancaman tarif AS yang lebih tinggi meskipun sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik, membuat laju minyak mentah kembali tertekan. Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada bulan Oktober lalu membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua tahun 2025. Harga rata-rata mengalami penurunan sebesar hampir 13 persen, dan diperdagangkan di kisaran level $64 per barel.

Girta Putra Yoga menambahkan, "Harapan optimis akan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal tahun 2026. Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah".

"Selain itu, ketegangan geopolitik yang mewarnai pembukaan tahun 2026 ini, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS – Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level $90 per barel pada awal Maret ini, dari sebelumnya di level $57 per barel pada awal Januari 2026", ungkap Girta Putra Yoga

Di tahun 2026 ini, Girta Putra Yoga menyatakan bahwa melihat dari situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini, diperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini. Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga $95 - $100 per barel, dan level support di kisaran harga $80 - $75 per barel. Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump.

Direktur ICDX Nursalam mengatakan, "Kami beharap, informasi yang kami sampaikan dalam Commodity Outlook 2026 ini bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini. Khusus untuk kontrak minyak mentah dan emas, kita tahu perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut".

"Di ICDX, untuk perdagangan multilateral telah diperdagangkan kontrak-kontrak berjangka perdagangan atas kedua komoditas minyak mentah dan emas, yang tentunya dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai. Apalagi dalam kondisi harga komoditas yang sangat fluktuatif karena berbagai faktor, mekanisme lindung nilai ini sangat diperlukan para pelaku usaha dengan bisnis jangka panjang. Untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah dan emas, saat ini di ICDX diperdagangkan produk-produk yang diperdagangkan secara multilateral yaitu GOFX. GOFX sendiri merupakan produk instrumen derivatif komoditas yang terdiri dari Kontrak Spot dan Berjangka Emas, Kontrak Berjangka Minyak Mentah, serta Kontrak Spot Forex berukuran mini (1/10 dari kontrak standar)", ungkap Nursalam.

Terkait perdagangan kontrak berjangka komoditas emas dan minyak mentah, di ICDX sepanjang tahun 2025 tercatat transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis minyak mentah mencapai 61.260 lot. Sedangkan transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.

Adapun untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah, didominasi oleh kontrak COFRMic dengan transaksi sebanyak 51.548 lot. Kontrak COFRMic merupakan kontrak berjangka minyak mentah berukuran mikro dengan acuan harga West Texas Intermediate (WTI) sebagai underlying. Kontrak ini memiliki ukuran sebesar 10 barel per lot, sehingga memberikan akses yang lebih fleksibel bagi pelaku pasar untuk melakukan transaksi maupun lindung nilai terhadap pergerakan harga minyak mentah.

Sedangkan untuk kontrak berjangka komoditas emas didominasi oleh kontrak GOLDUDMic dengan transaksi sebanyak 682.310 lot. GOLDUDMic merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan ukuran 1/100 dari kontrak standar. Minimum transaksi adalah 1 lot mikro (setara 0,01 kontrak GOLDUD). Ukuran kontrak yang lebih kecil membuat transaksi emas berbasis USD lebih terjangkau, namun tetap memberikan eksposur terhadap pergerakan harga emas global yang mengacu pada pasar Loco London.

GOLDUD merupakan kontrak gulir harian emas dalam denominasi USD yang diperdagangkan di bursa dengan ukuran kontrak sebesar 10 troy ounce per lot. Kontrak ini mengacu pada harga emas di pasar internasional Loco London dengan tingkat kemurnian 99,99%, sehingga mencerminkan pergerakan harga emas global. **

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Jalaluddin Lase
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru