Senin, 12 Januari 2026

Soundrenaline "Sana Sini" 2025 Guncang Kota Medan di 4 Titik

Marini Rizka Handayani - Senin, 24 November 2025 21:31 WIB
Soundrenaline "Sana Sini" 2025 Guncang Kota Medan di 4 Titik
Rini
Penampilan Band ELEVENTWELFTH di acara Soundrenaline "Sana Sini Di Medan" 2025 di Lapangan Benteng, Sabtu, 22/11/2025). (Rin)
Medan, MPOL - Soundrenaline 2025 "Sana Sini di Medan" merupakan ajang festival musik yang mempersatukan musisi, seniman, dan pelaku industri kreatif dari berbagai skema di Indonesia. Kota Medan, yang dikenal sebagai salah satu episentrum kreativitas di Sumatera, menjadi titik penting bagi perjalanan Soundrenaline 2025 dalam merayakan semangat kolaborasi dan kemajuan bersama.

Baca Juga:
Soundrenaline "Sana Sini di Medan" berlangsung secara serentak di sejumlah titik kota, yaitu: Lapangan Benteng, Jalan Ahmad Yani, District 10, dan Simpul Kota.

Di Lapangan Benteng dan Jalan Ahmad Yani, penonton disuguhkan penampilan dari White Shoes & The Couples Company, The SIGIT, Eleventwelfth, serta Grrrl Gang—empat nama yang dikenal karena orisinalitas dan kekuatan naratif dalam musik mereka.

Tak hanya itu, berbagai kolektif lokal seperti Suara Ujung Sumatera, Demajors Medan, RAWLABS, Medan Art Familia, DOMAYN061, dan Woodlandskate juga menghadirkan beragam karya yang memperkaya lanskap kreatif Medan.

Simpul Kota menjadi pusat kegiatan diskusi dan inspirasi, melalui sesi berbagi bersama Basboi, Rio dari White Shoes & The Couples Company, yang membahas perjalanan mereka dalam menembus batas-batas karya, tidak hanya seni musik namun juga membahas mengenai kiprah mereka di sisi seni visual bersama visual artis lokal, Onggooo.

Di District 10 disajikan diskusi seru mengenai dunia musik dari sudut pandang personel band dengan membawa Rekti Yoewono The SIGIT sebagai pembicara dan juga penampilan menarik dari komika Medan yaitu Maulana, Riski, dan Reza Kahar yang dipandu oleh Cacink.

Tak berhenti di situ, Soundrenaline "Sana Sini Di Medan" juga menghadirkan konsep mobile DJ yang unik, di mana DJ dari kolektif lokal DJ Jomsky berkeliling di area Kesawan dan Lapangan Benteng, menghadirkan musik secara dinamis dalam tiga putaran, sebelum melakukan pemberhentian terakhir di Lapangan Benteng. Penampilan dari Yuri dalam bentuk visual mapping, serta penampilan penutup dari NTZ, Dangerdope, Babaloo, dan Drs. Groove yang menjadi rangkaian penutup yang membekas bagi publik Medan.

Setelah Medan, perjalanan Soundrenaline 2025 akan berlanjut ke Bandung pada 29 November, kemudian ke Palembang pada 6 Desember, dan akan berpuncak di Jakarta pada 18 hingga 21 Desember 2025. Dengan format multi-lokasi dan multi-hari, festival ini diharapkan dapat menjangkau lebih dari 30.000 penonton di 5 kota besar di Indonesia, melibatkan ratusan musisi dan komunitas kolektif lokal, serta menjadi salah satu katalisator bagi pertumbuhan industri musik dan ekonomi kreatif nasional.

Soundrenaline mengundang seluruh komunitas musik, kreatif, dan masyarakat Medan untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Karena kemajuan tidak lahir dari satu panggung atau satu nama, melainkan dari semangat bersama yang tumbuh dari akar rumput dan kolaborasi kolektif.

Talk Show Soundrenaline "Sana Sini di Medan" 2025

Turning Vision Into Value


Onggo (kiri pake topi), MC, Rio Farabi (berkacamata hitam) dari White Shoes dan The Couples Company saat Talk Show di Simpul Kota Jl. Hindu Medan, Sabtu (22/11/2025). (Rin)

Rio dari White Shoes & The Couples Company menceritakan perjalanan mereka dalam menembus batas-batas karya musik.

Rio Farabi, gitaris band White Shoes ini mengatakan dalam bermusik, uang tidak sepenuhnya menjadi kebutuhan utama, tapi uang memang dibutuhkan untuk proses.

"Tidak mengejar uang, tetapi uang memang dibutuhkan untuk proses," ucapnya.

Beliau menjelaskan dalam bermusik mengutamakan kenyamanan dalam pekerjaannya sebagai musisi.

Rio juga mengungkapkan bahwa ada salah satu lirik lagunya yang dibuat semasa kuliah telah mengubah hidup seseorang. Lagu merupakan seni yang mampu memotivasi seseorang. Lagu juga bisa sebagai penyembuh luka batin bila lirik lagu itu pas dengan yang ia rasakan.

Dalam menyikapi Artificial Intelligen (AI), gitaris yang ramah ini mengatakan bahwa AI hanya sebagai alat bantu dalam berkarya. AI tidak mampu menciptakan karya seni seperti halnya manusia.

"Kita harus bijak, harus bisa menghargai apa yang saat ini kita miliki," tutupnya.

Dalam talk show di Simpul Kota ini, Onggo yang merupakan artis lokal seni visual mural menjelaskan, karya seni adalah karya inspirasi, imajinasi dan pikiran manusia. Mural, salah satu kreatifitas anak muda dihasilkan untuk dinikmati banyak orang.

"Maju terus berkarya agar bisa dinikmati orang banyak," ujarnya dengan semangat.

Ditanya terkait AI, Onggo menjelaskan bahwa AI tidak bisa membuat karya seni tapi dengan banyak alat bantu bisa mengexplore banyak karya.

"Apapun tools yang kita miliki, berkaryalah, eksplore kemampuan kita. Jangan jadikan AI sebagai hambatan," ujarnya memotivasi.

Built Your Self


Rekti Yoewono dari THE SIGIT dalam Talk Show di District 10, Sabtu, (22/11/2025). (Rin)

Rekti Yoewono dari THE SIGIT Band mengungkapkan bahwa beliau sudah menekuni pekerjaan sebagai musisi ini sejak zaman sekolah.

Penyanyi band yang hobi memasak ini dulu bercita-cita menjadi pilot dan pelawak.

"Membangun sound sangat penting untuk rekaman," jelasnya.

Proses wajib menjaga konsistensi dengan sound memiliki ritual yang rutin dikerjakan. Tidur yang cukup, olahraga, kardio, dan menjaga stamnina keseharian.

Rekti yang juga menyukai fotografi, saat ini masih mencari karakter sound.

"Dunia terus berubah dan kita harus beradaptasi dengan perubahan," jelasnya. Referensi musisi yang beliau sukai adalah George Martin dan The Beatles. (Rin)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Marini Rizka Handayani
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru