Jakarta, MPOL - Jelang
Kongres Persatuan
PWI, isu intervensi pemerintah kembali mencuat. Padahal, penggunaan fasilitas Balai Pelatihan dan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BPPTIK) milik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Bekasi hanyalah bentuk dukungan fasilitas, bukan campur tangan.
Baca Juga:
"Sejak awal wacana percepatan kongres, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria justru menekankan agar independensi
PWI terjaga. Pemerintah hanya ingin kongres lancar tanpa intervensi," tegas Ketua Umum
PWI Pusat, Hendry Ch Bangun di Jakarta, Jumat (22/8).
Hendry menyebut, ada pihak yang mencoba menggiring opini bahwa calon tertentu adalah 'wakil resmi' pemerintah untuk memimpin
PWI lima tahun ke depan. "Saya dapat laporan, ada yang bilang calon X harus didukung karena itu keinginan pemerintah. Bahkan disebut akan ada konsekuensi bila tidak dipilih," ujarnya.
Hendry yang juga pernah menjabat Wakil Ketua Dewan Pers 2019-2022 menegaskan, hasil pengecekan ke sejumlah pejabat pemerintah memastikan tidak ada arahan resmi. "Kalau ada oknum memberi dukungan pribadi, itu bukan sikap pemerintah," katanya.
Tak hanya itu, tekanan juga datang dari sebuah grup media besar yang memiliki jaringan di berbagai provinsi. Menurut Hendry, sejumlah Ketua
PWI Provinsi ditekan atasan mereka di grup media itu agar memilih calon tertentu. "Aneh sekali. Apa kontribusi mereka untuk
PWI? Nggak ada. Jadi jangan ngerecokin organisasi wartawan," ujarnya.
Ia mengingatkan, urusan media berbeda dengan urusan organisasi profesi. Pengurus
PWI provinsi harus diberi ruang memilih dengan bebas tanpa tekanan pihak manapun. "Sebagai orang media, mestinya sadar jangan cawe-cawe menjagokan calon," kata Hendry.
Kongres Persatuan
PWI sendiri akan digelar di BPPTIK, Jababeka, Kabupaten Bekasi, 29–30 Agustus mendatang. Utusan dari 38 provinsi dan cabang khusus Solo akan hadir untuk memilih Ketua Umum dan Ketua Dewan Kehormatan
PWI Pusat. Agenda ini menjadi krusial setelah munculnya
Kongres Luar Biasa (KLB) tandingan yang menimbulkan kesan dualisme, membuat organisasi wartawan tertua dan terbesar di Tanah Air ini terbelah dan menyulitkan organisasi dengan lebih 30 ribu anggota ini menjalankan program kerja.***
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Marini Rizka Handayani