Bogor, MPOL -Kordinator Wilayah (Korwil) Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara (Sumut), Drs
Gandi Parapat,
melihat gerakan
Ephorus HKBP yang getol ingin tutup PT TPL, semakin menimbulkan pertanyaan ataupun dinilainya meresahkan.
Baca Juga:
Gandi Parapat yang jemaat HKBP Pardomuan Medan itu pun mengaku tidak habis pikir dengan gerakan
Ephorus HKBP seperti yang dilakukan pada 18 Agustus 2025 di Jakarta.
"Apa sebenarnya masalah
Ephorus HKBP dengan PT TPL sehingga berjibaku secara akbar menyuarakan tutup TPL dimana-mana termasuk di Jakarta", kata
Gandi Parapat di Bogor, Jawa Barat, Senin (25/8/2025).
Atas hal itu,
Gandi Parapat dan rekannya Rivai Silaban berangkat ke Bogor menjumpai mantan Menteri Kehutanan
MS Kaban agar berkenan memberi pemikiran tentang masalah yang disuarakan Ephorus: "Tutup TPL".
Karena Gandi menilai jika Ephorus dan sejumlah pendeta sudah bekerja diluar tugasnya sebagai pengembala, menciptakan masyarakat rukun dan damai, namun justru gerakan itu telah menimbulkan perpecahan di antara jemaat HKBP sendiri.
"Mungkin banyak jemaat yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa acara doa bersama di Tugu Proklamasi telah menjadi ajang demonstrasi dan protes terhadap perusahaan yang justru menerima banyak penghargaan dari Pemerintah", kata Gandi.
Dalam pertemuannya dengan
MS Kaban, di tengah kesibukan dengan keluarga, kader partai yang datang silih berganti, seperti biasa
MS Kaban mau menerima kehadiran Gandi dan Rivai, Senin 25 Agustus 2025 di kediamannya di Bogor, Jawa Barat.
"Wah sudah lama menunggu ya bang Gandi. Bagaimana kabar saudara-saudara kita di Medan?", sebut
MS Kaban menyambut kehadiran Gandi dan Rivai.
Gandi pun menjawab: "baik bang" dan bertanya apa sudah tahu pembicaraan masalah TPL sampai
Ephorus HKBP sangat ambisi agar TPL ditutup karena disebut merusak lingkungan. Padahal pemerintah belum menyatakan tidak merusak lingkungan. Jika memang merusak lingkungan, kami
PMPHI Sumut bersama masyarakat akan meminta tutup TPL, tapi bukan rombongan Ephorus, karena setahu saya tugas
Ephorus HKBP bukan meminta tutup TPL atau perusahaan manapun", kata Gandi.
MS Kaban yang juga mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang itupun langsung menyatakan: Ya... saya tau dari media tentang ambisi tutup TPL. Hal itu kemungkinan bisa benar persaingan usaha dengan luar negeri seperti yang dibilang Gandi tadi.
"Karena penanaman Ekaliptus di Indonesia tidak sampai 10 tahun sudah bisa dipanen dengan mutu dan kwalitas bagus, di luar negeri lebih dari 20 tahun baru bisa dipanen", kata mantan Menhut RI tersebut.
"Jadi kecemburuan pengusaha luar negeri dengan TPL sangat memungkinkan".
Dikatakan, hutan tanaman industri harus sama-sama menguntungkan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat setempat harus untung juga. Untuk itu harus sama-sama memiliki atau menjaga lingkungan.
MS Kaban pun berpesan kepada Gandi dan Rivai agar menjaga kenyamanan dan stabilitas dalam situasi yang sangat sulit sekarang. Jangan terjadi hal yang merugikan stabilitas.
"Coba kalian berkomunikasi dengan masyarakat yang menyatakan tutup dan tidak, berkomunikasi dengan pihak TPL, juga dengan pihak lain seperti pemerintah daerah", kata
MS Kaban.**
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News