Rabu, 11 Februari 2026

Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd.: Refleksi Diri Kunci Membangun Manusia dan Universitas yang Bermakna

Redaksi - Senin, 09 Februari 2026 14:26 WIB
Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd.: Refleksi Diri Kunci Membangun Manusia dan Universitas yang Bermakna
Ist
Syawal Gultom
Medan, MPOL -Guru Besar sekaligus Ketua Senat Universitas Negeri Medan, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., memberikan Refleksi Awal Tahun bagi Civitas Akademika Universitas Negeri Medan, khususnya yang beragama Kristiani, dalam rangkaian pembukaan kegiatan Kebaktian Raya Ucapan Syukur Natal dan Tahun Baru 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada 6 Februari 2026 di Gedung Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed).

Baca Juga:

Refleksi tersebut disampaikan di hadapan Rektor Unimed, Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, Dekan dan Direktur Pascasarjana, Kepala Biro dan Kepala UPT di lingkungan Unimed, serta Pendeta Toho Sinaga, S.Th., M.I.Kom. Kegiatan ini diikuti sekitar 2.500 dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Universitas Negeri Medan yang tergabung dalam keluarga besar Forum Pelayanan Kristiani (FPK) Unimed.

Dalam refleksinya, Prof. Syawal menegaskan bahwa refleksi diri merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas manusia sekaligus memperkuat transformasi institusi pendidikan tinggi. Menurutnya, refleksi bukan sekadar kegiatan introspektif yang bersifat emosional, melainkan sebuah metode berpikir yang menuntut kejujuran, kesadaran diri, dan kedewasaan moral.

Prof. Syawal mengutip pemikiran filsuf Yunani Socrates yang menyatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani.
"Refleksi adalah keberanian untuk melihat ke dalam diri. Kita sering kali terlalu keras kepada orang lain, tetapi justru terlalu lunak kepada diri sendiri. Padahal refleksi menuntut kita bersikap tegas kepada diri sendiri sebelum menilai orang lain," ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Syawal menjelaskan bahwa refleksi yang mendalam akan melahirkan kecerdasan emosional dan kebijaksanaan dalam bersikap. Ia mengibaratkan cara pandang manusia seperti kacamata berwarna. Jika seseorang menggunakan kacamata tertentu, maka seluruh realitas akan tampak sesuai warna kacamata tersebut. Oleh karena itu, refleksi diperlukan agar manusia menyadari keterbatasan sudut pandangnya dan mampu melihat realitas secara lebih utuh, jernih, dan adil.

Prof. Syawal juga mengaitkan refleksi personal dengan refleksi institusional. Ia menekankan bahwa kemajuan universitas tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipenuhi evaluasi berkelanjutan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta kesediaan seluruh elemen untuk terus memperbaiki diri. Transformasi institusi pendidikan tinggi, menurutnya, hanya dapat terwujud apabila setiap unsur memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari satu sistem yang utuh.

"Dalam sebuah sistem, tidak ada yang paling penting dan tidak ada yang paling berjasa. Semua memiliki peran yang saling melengkapi. Universitas hanya akan bergerak maju jika seluruh unsur bekerja bersama dengan kesadaran untuk melayani," tegasnya.

Tokoh pendidikan nasional ini juga menyoroti paradigma kepemimpinan di perguruan tinggi yang seharusnya berorientasi pada pelayanan. Dalam kaitannya dengan universitas, mahasiswa harus ditempatkan sebagai pusat layanan akademik, sementara pimpinan dan dosen berperan sebagai pelayan yang memastikan proses pendidikan berlangsung secara bermakna dan berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Syawal menyampaikan sebuah kisah reflektif tentang seorang kepala tukang yang menyesal karena membangun rumah terakhirnya secara asal-asalan, tanpa mengetahui bahwa rumah tersebut justru akan menjadi tempat tinggalnya di masa tua. Kisah ini, menurutnya, menjadi pelajaran moral agar setiap orang menjalani profesinya dengan kesungguhan, tanggung jawab, dan integritas sejak awal.

"Jangan sampai kita menyesal di akhir perjalanan. Apa yang kita kerjakan hari ini bisa jadi adalah masa depan kita sendiri," ungkapnya.

Sebagai penutup refleksi, Prof. Syawal mengajak seluruh Civitas Akademika Universitas Negeri Medan untuk melakukan refleksi sederhana namun mendalam dengan mengajukan dua pertanyaan kunci: apa yang telah dilakukan dengan baik, dan apa yang perlu diperbaiki. Dua pertanyaan tersebut dinilai cukup untuk menuntun evaluasi diri sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun manusia dan universitas yang semakin bermakna.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia, Dr. Dionisius Sihombing, M.Si., dan Ketua Forum Pelayanan Kristiani (FPK) Unimed, Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd., menyampaikan rasa hormat, bangga, dan terima kasih kepada Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., atas kehadiran serta kesediaannya memberikan Refleksi Awal Tahun 2026 dalam rangkaian kegiatan Kebaktian Raya Ucapan Syukur Natal dan Tahun Baru 2026.

Ucapan terima kasih dan penghargaan juga disampaikan kepada Rektor Unimed, Prof. Dr. Baharuddin, S.T., M.Pd., yang memberikan kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, serta kepada Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, Dekan dan Direktur Pascasarjana, Kepala Biro, Ketua Lembaga, dan Kepala UPT yang berkenan hadir dalam rangkaian acara pembukaan.

"Kehadiran seluruh unsur pimpinan Unimed menambah semangat dan sukacita bagi keluarga besar Forum Pelayanan Kristiani Unimed, serta menjadi bukti konkret terbinanya relasi kasih dan persaudaraan di kampus kebanggaan kita bersama, Universitas Negeri Medan," ungkap panitia.**

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Maju Manalu
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru