Medan, MPOL -Kordinator Wilayah (Korwil) Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara (Sumut), Drs
Gandi Parapat berharap
terkait
bencana alam yang kita hadapi saat ini agar tidak saling menyalahkan, tapi tetap berserah kepada Tuhan.
Baca Juga:
"Mari mohon jangan saling menyalahkan dengan
bencana alam saat ini, tapi tetap berserah kepada Tuhan", kata
Gandi Parapat di Medan, Jumat (28/11/2025).
Kata Gandi, ia juga memahami keinginan anggota DPD RI Pendeta Penrad Siagian yang peduli
TPL.Namun dengan tuntutan Ephorus dan pengikutnya agar
TPL ditutup dan diberikan tanah konsesi tersebut ke karyawan mantan
TPL, kata Gandi, pihaknya merasa tertawa dan terhibur. "Tapi belum sampai sakit perut", ujarnya tertawa.
Korwil
PMPHI Sumut juga menyebut pernyataan ataupun keinginan Pendeta Penrad Siagian sangat tepat sesuai dengan saran dan pendapat Pakar Hukum dan Politisi Pahala Sitorus.
Semenjak ada niatan Ephorus HKBP untuk menutup
TPL, kata Gandi, Pahala Sitorus sudah mengantisipasi reaksi dan akibat pernyataan pernyataan Ephorus HKBP. Pahala yang begitu aktif di organisasi kemasyarakatan dan mantan Ketua GAMKI Tebing Tinggi, Naposobulung HKBP dan sampai sekarang sebagai jemaat HKBP, tentu tidak ingin Bangso Batak menjadi terbelah karena
TPL.
Pahala Sitorus telah menyarankan dan meminta
TPL diaudit total agar masyarakat tidak terjebak ikut menuduh pemerintah, masyarakat ataupun
TPL melakukan kesalahan yang bisa merugikan semua pihak.
Pahala Sitorus sudah lama berupaya memberikan pencerahan ke semua pihak, baik melalui media maupun perkelompok agar
TPL diaudit total.
Semoga suara suara masyarakat seperti Pahala Sitorus termasuk Pendeta Penrad Siagian agar
TPL diadit total dapat terlaksana guna menyelesaikan polimik tersebut.
Terkait Gubsu yang akan membuat surat rekomendasi ke pemerintah pusat yang meminta perusahaan mengelolah tanahnya untuk menghasilkan uang yang akan dipergunakan untuk kepentingan rakyat, menurut
Gandi Parapat hal itu sudah tepat.
"Saya melihat Gubsu menerima Ephorus dan rombongan tidak pada waktu unjukrasa atau adu kekuatan, tapi pada waktu saling memahami", ujarnya.
"Masalah penderitaan masyarakat Sumut atas
bencana alam yang menelan puluhan korban jiwa, kita yang beragama harus selalu berserah kepada Tuhan. Tuhan yang menciptakan bumi dan seisinya serta pemiliknya.
Untuk itu dalam suasana apapun kita harus berserah dan minta petunjuk kepada Tuhan.
Kami terus memanjatkan Doa agar saudara-saudara yang ditinggal oleh anak, bapak, ibu maupun kakek harus tetap berserah kepada Tuhan karena hidup ini sementara dan rencana Tuhan bukan rencana kita", pungkasnya.
"Dalam setiap rencana Tuhan itu kita harus siap. Kalau kita hitung penderitaan masyarakat Tapteng ,Taput/Adiangkoting sekitarnya yang beberapa hari putus komunikasi karena tidak bisa dilewati/dimasuki kendaraan dan komunikasi elektronik. Namun demikian kami terus berdoa kepada masyarakat yang hidup maupun yang telah dipanggil Tuhan".
"Atas musibah tersebut kami tetap menghimbau agar Maruarar Sirait dan Luhut Binsar Panjaitan harus segera memberi bantuan tunai secara pribadi", tutup
Gandi Parapat.**
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News