Medan, MPOL -Masyarakat Sumatera Utara kehilangan seorang putra terbaiknya, seorang pengusaha pemilik Medan Bus,
Djumongkas Hutagaol (Op. Doddy Doli), Senin (19/1) di RSUP H Adam Malik Medan sekitar Pukul 14.05 WIB. Almarhum meninggal dunia dalam usia 79 tahun serta meninggalkan istri R Boru Sitompul dan 6 orang anak serta 24 cucu.
Baca Juga:
Allmarhum semasa hidup dikenal sebagai tokoh masyarakat yang kokoh pada prinsip dan berani menyuarakan perlawanan terhadap kesewenangan.
Ketika terjadi konflik di tubuh gereja HKBP, Djumongkas berada di depan membentuk kelompok SSA (Setia Sampai Akhir) mendukung Ephorus Pdt Dr SAE Nababan yang pada masa itu tidak disukai oleh rejim orde baru. Ia sempat menjadi incaran aparat yang mendukung kubu ephorus tandingan bentukan pemerintah.
Djumongkas bersama tokoh aktivis seperti Timbul Raya Manurung, Parlin Manihuruk, Japorman Saragih, Ramses Simbolon, Torang Nadeak, Efendi Tambunan, Roy Fachraby Ginting, Alamsyah Hamdani, Nitema Gulo dan lainnya kemudian membentuk Aliansi Gerakan Reformasi Sumatera Utara (Agresu). Mereka menjadi lokomotif reformasi di daerah ini.
Ia bersama tokoh-tokoh Batak lainnya berjuang menggolkan Provinsi Tapanuli sebagai upaya mengangkat Tapanuli dari peta kemiskinan. Namun hingga ia menghembuskan nafs terakhir, Provinsi Tapanuli yang ia cita-citakan tak kunjung terbentuk.
Pria kelahiran 31 Agustus 1946 di Desa Hutabulu Mejan Balige ini merantau ke Kota Medan, selepas tamat STM bermodal "dengkul". Ia sempat bertahun menjadi kuli bangunan kemudian tukang dan pemborong bangunan.
Berbekal keahlian tukang dan pemborong bangunan, Djumongkas sempat bekerja di BUMN PT Nindya Karya. Setelah merasa memiliki modal, ia kemudian membuka usaha jasa transportasi.
Namanya menjadi pionir moda angkutan di Kota Medan ketika di era 80-an merintis usaha Medan Bus yang berkembang cepat dan pesat.
Ia sempat dipercaya Kemenhub mengelola PT Trans Metro Deli di Kota Medan.
Djumongkas semasa hidup cukup disegani karena kegigihan dan keteguhannya pada prinsip. Karakternya yang keras membuat ia menjadi seorang enterpreneur Batak yang mampu survive hingga akhir hayatnya. Bahkan ia sempat dipercaya menjadi Ketua DPD Apersi, sebuah organisasi perusahaan property dan membangun sejumlah kawasan pemukiman di Sumut.
Ia mewariskan sejumlah unit usaha kepada generasi penerusnya seperti usaha angkutan PT Medan Bus, Sandhra Prima, Kilang Padi 556, Pertukangan Kayu CV Mekar Sari, Jasa Titipan Kilat, Apotik dan dua hari jelang kematiannya, Djumongkas masih sempat meresmikan unit usaha baru 556 Pool & Cafe.
Almarhum juga dikenal sebagai politisi PDIP dan pernah menjabat sebagai wakil ketua DPD Sumut. Aktivitas sebagai pengusaha, politisi diimbangi dengan perhatiannya yang besar bagi kegiatan di HKBP sebagai warga jemaat begitu juga dalam dunia adat budaya Batak.
Rudi Sitorus menantu almarhum menyampaikan acara Ria Raja akan dilaksanakan Rabu, 21 Januari 2026 dimulai
Pukul 20.00 WIB.
Selanjutnya acara adat Partuatna, Kamis, 22 Januari 202.
Alamat duka Jln Syahruddin No 56 Sitirejo III Medan Amplas.
Setelah itu almarhum akan dimakamkan di pekuburan keluarga di Dolok Nagodang, Balige Kabupaten Toba, Jumat, 23 Januari 2026.
"Kami mohon doa dari seluruh keluarga, kerabat, handai tolan dan masyarakat luas agar seluruh acara berjalan dengan baik. Atas nama keluarga kami juga mohon maaf atas kesalahan orang tua kami semasa hidupnya," ucap Rudi Sitorus.**
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News