Batubara, MPOL - Di pesisir timur Sumatera, abrasi bukan cerita baru. Tapi di Kabupaten Batubara, garis pantai mulai punya penahan baru. Namanya mangrove.
Baca Juga:
Selama 3 tahun terakhir, penanaman dilakukan masif.b Bukan oleh satu pihak, tapi lewat kolaborasi perusahaan, kelompok tani, dan nelayan.
Dari Penebangan ke Penanaman
Era 1970 hingga 1990 jadi masa kelam bagi hutan bakau di wilayah ini. Pohon api-api ditebang besar-besaran. Kebutuhan arang, kayu perancah, dan bahan pembuatan kapal membuat tegakan mangrove menyusut cepat.
Padahal kerugiannya jangka panjang. Tanpa bakau, pantai rawan terkikis. Air laut mudah masuk ke daratan. Habitat ikan dan kepiting berkurang. Saat gelombang besar datang, tidak ada lagi vegetasi yang memecahnya.
Kerusakan itu dilihat langsung oleh PT Indonesia Asahan Aluminium. Perusahaan yang beroperasi sejak 1976 di kawasan pesisir ini menyadari, lingkungan yang rusak akan berdampak ke operasional dan masyarakat sekitar.
Hitungan di Atas Tanah
Aksi dimulai. Tidak tanggung-tanggung.
Tahun 2023, Inalum menanam 23.000 bibit.
Setahun kemudian, 2024, jumlahnya naik jadi 49.000 bibit.
Masuk 2025, ditambah lagi 15.000 bibit.
Total: 87.000 bibit mangrove sudah masuk ke tanah Batubara. Tujuannya satu, menguatkan tanggul alami pantai dan memulihkan rantai ekosistem.
Yang membuat program ini beda adalah pelibatan warga. Inalum tidak jalan sendiri. Di lapangan ada Kelompok Tani Cinta Mangrove yang mengurusi pembibitan. Adag KTH Lestari Pesisir yang memantau pertumbuhan. Ada Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia yang menjaga agar tidak ada gangguan.
Bagi mereka, ini bukan proyek. Ini soal laut, soal tangkapan, soal rumah yang tidak mau lagi kebanjiran rob.
Kenapa Ini Penting untuk Semua
Data KLHK mencatat Indonesia punya 3,45 juta hektar mangrove. Itu 23% dari seluruh mangrove di dunia. Porsi terbesar di planet ini ada di tangan kita.
Artinya, apa yang terjadi di Batubara adalah cermin. Jika 87.000 bibit bisa tumbuh, maka jutaan lainnya juga bisa.
Menjaga mangrove hari ini berarti menjaga 3 hal: menahan abrasi, melindungi keanekaragaman hayati, dan memastikan pesisir tetap bisa dihuni anak cucu.
Di tengah perubahan iklim dan naiknya permukaan laut, kerja-kerja kecil seperti ini justru yang paling menentukan. Karena saat badai datang, yang pertama ditanya bukan berapa tinggi pabriknya. Tapi seberapa kuat hutannya.(mkb)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan