POSTUR tubuhnya tidak tegap dan kekar, tapi tampak berisi, gayanya humble dan suka menolong orang susah. Dia adalah pria jebolan Akademi Kepolisian 1998 yang pernah menjabat sebagai Kapolres Labuhanbatu. Namanya Frido Situmorang.
Baca Juga:
Setelah selama 33 bulan mengabdi, akhirnya dia dimutasi sesuai surat telegram Kapolri Nomor : ST/2317/IX/KEP./2019 tanggal 2-9-2019, di angkat dalam jabatan baru sebagai Wadir Pam Obvit Polda Jambi.
Tak lama kemudian, dia kembali di promosikan menjabat sebagai direktur Samapta Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), dan saat ini menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Kalimantan Selatan, dan berpangkat Komisaris Besar Polisi.
Juga, didapati sejumlah ilmu pendidikan kejuruan yang telah diraihnya meliputi, KIBI ditahun 1999, Dikdaspa Brimob Akpol (1999), Dikjurdas Pa Polair (2000), Dikjurlan Pa Idik Udpal (2001), Latkalpuan TP Terorganisir (2002).
Kemudian, JCLEC management of Major Crime Course (2009), JCLEC Combating Transnational Organised Crime and Counter- Terrorism Course (2010), Combating Wildlife Trafficking (2014), dan AssessmentKapolres(2015).
'Kondisi damai bukan dicari, tapi di ciptakan'. Ini adalah salah satu entitas tujuannya menjalankan tugas sebagai Kapolres di Kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara kala itu. Meskipun tentunya menghadapi hiruk pikuk polemik global di wilayah hukumnya, dia tetap menjadi pengayom yang dirindukan hingga saat ini.
"Sampai sekarang, belum ada sosok pejabat yang bisa membersamai gaya bang Frido sebagai Kapolres di Labuhanbatu Raya ini. Bayangkan saja, kepergiannya dilepas dengan tangis dan pelukan alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat dan insan Pers. Dia adalah Hoegengnya Labuhanbatu Raya," ujar Harris Nixcon Tambunan S.H.,M.H, praktisi hukum Labuhanbatu, belum lama ini.
Akibat dari langkah humanis yang dia ciptakan kala itu, seperti salah satu contoh yakni mampu melahirkan keguyuban terhadap seluruh pengurus Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Puja Kesuma) di tiga Kabupaten Labuhanbatu Raya, hingga Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Jenderal Pol (Purn) Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H, yang sebelumnya menjabat Kapolda Sumatera Utara, karena capaian itu, sempat menjulukinya 'Frido Situmirin'.
Sejatinya, yang sampai saat ini masih terngiang di ingatan masyarakat, Frido juga meng-aplikasikan dirinya sebagai pemimpin daerah. Banyak politisi, kaum ulama, mahasiswa dan tokoh masyarakat di wilayah setempat menyebut dirinya 'Kapolres Rasa Bupati'.
Secara universal, nyaris tidak ada sedikitpun celah kesalahan yang terjadi disaat beliau menjabat. Apabila di tinjau dari konsentrasi sistem kepolisian, dia hanya memprioritaskan lestarinya Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), dengan pengembangan konsep Polisi Komunitas.
"Menurut saya, beliau pejabat Kapolres Labuhanbatu terbaik sepanjang masa, dan belum ada yang seperti dirinya. Jujur, saya mengatakan ini karena saya purnawirawan polisi yang langsung merasakan sosok pimpinan," bilang Helmi Tanjung, mantan juper senior Unit Laka Polres setempat.
Penulis teringat, Frido juga pernah mengatakan bahwa Polisi itu sesungguhnya adalah masyarakat. Sebab, sepulangnya selesai mengabdi sebagai polisi akan kembali dan hidup di tengah masyarakat.
"
Polisi adalah kita, dan kita semua adalah polisi. Serta tentunya polisi harus bermasyarakat. Dimana masyarakat membuat pengaduan, polisi harus menindaklanjutinya demi memberikan rasa aman. Demikian juga, tanpa masyarakat polisi tidak bisa berbuat secara maksimal. Begitulah makna Polisi adalah Kita," sebut Frido waktu itu.
Hingga di akhir masa jabatannya, penulis mempersembahkan sebuah buku yang berjudul : 'Selama 33 Bulan Menjabat, Saya Mohon Pamit' dan dicetak sebanyak 1.000 eksemplar dan dibagikan kepada Muspida, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Akademisi, serta Tokoh masyarakat di Kabupaten Labuhanbatu Raya.
Hadirnya Figur AKBP Wahyu Endrajaya S.I.K.,M.Si
Hari ini, Selasa, 13 Januari 2026, Jabatan Kapolres Labuhanbatu secara resmi di serahterima dari pejabat lama AKBP Choky Sentosa Meliala S.IK.,M.H, kepada pejabat Baru AKBP Wahyu Endrajaya S.I.K.,M.Si, di Mapolres setempat. Serta dilanjutkan dengan kegiatan malam pisah sambut di Aula Pendopo Rumah Dinas Bupati Labuhanbatu.
Ada makna spesial yang tergambar pada momen baik kali ini, yakni wajah masyarakat di bumi Ika Bina En Pabolo mulai tampak sedikit kembali tersenyum, dengan hadirnya sosok Kapolres yang dirasa sesuai dengan 'selera' rakyat.
"Saya warga Sibabangun, Bapak itu sekarang pindah ke Labuhanbatu, keren bapak itu. Beliau saat menjabat Kapolres Tapanuli Tengah (Tapteng) selalu memberikan 'sentuhan' terbaik buat masyarakat," bilang warga, M. Husein Harahap, pada Akun Facebook Polres Tapanuli Tengah.
Penulis mulai merasa tertantang, dan terus mencari referensi terhadap kinerja beliau saat menjabat Kapolres Tapanuli Tengah. Hasilnya terbilang menggembirakan dan memberi sinyal positif, bahwa AKBP Wahyu Endrajaya ini akan mampu meneruskan langkah AKBP Frido Situmorang.
Terlebih, penulis belum lama ini mendengar khabar yang cukup menyenangkan hati, kalau AKBP Wahyu (sekitar 10 hari sebelum menjabat*), pernah singgah di Rantauprapat bersama insan Pers hendak menuju Medan.
Dalam persinggahannya dan hendak istirahat makan malam, Ali Yasil Sagala, wartawan terbitan Medan bercerita, AKBP Wahyu disebutkan lebih memilih makan di warung pinggir jalan daripada di restoran mahal. Kondisi nyata itu pun terjadi tanpa framing dan mempertontonkan sikap kesederhanaan.
"Alhamdulillah, nanti Kapolres kita yang baru ini orangnya baik. Kata kawan- kawan jurnalis di sana (Tapteng-red) dia memang orang baik, bersahaja dan sederhana. Pernah singgah di Rantauprapat, makannya gak milih-milih, ada warung pinggir jalan, ya disitu. Gak pakai protokoler dan bukan makan di restoran mahal," kenang Yasil.
Mendapati kisah menarik tersebut, naluri penulis semakin percaya, kalau AKBP Wahyu Endrajaya nantinya akan mampu meneruskan jejak Komisaris Besar Polisi Frido Situmorang, yang bertugas menjadikan Polisi jalan untuk mengabdi. Semoga **
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News