Kamis, 24 September 2026

BI Perkuat Antarsektor dan Transformasi KEK Sei Mangkei Jadi Mesin Pertumbuhan, Berikan Dampak Pengganda Ekonomi

Neti Herawati - Kamis, 24 September 2026 13:44 WIB
BI Perkuat Antarsektor dan Transformasi KEK Sei Mangkei Jadi Mesin Pertumbuhan, Berikan Dampak Pengganda Ekonomi
ist
KPwBI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman berfoto berikan souvenir kepada para narasumber.
P.Siantar, MPOL -Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar menyelenggarakan kegiatan HORJA Economic Forum 2026 di Aula Sisingamangaraja XII, lantai V KPwBI Kota setempat, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga:
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, pada forum tersebut menegaskan,merupakan wujud komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

"Sinergi Kawasan, Akselerasi Pertumbuhan: Mengoptimalkan Dampak Pengganda Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei bagi Pematangsiantar–Simalungun", menjadi tema yang bertujuan merumuskan langkah strategis dalam memperkuat keterhubungan antarsektor dan mentransformasi KEK Sei Mangkei menjadi mesin pertumbuhan (growth engine) yang memberikan dampak pengganda (multiplier effect) nyata bagi perekonomian daerah sekitar, tegasnya lagi.

"Kedua wilayah memiliki karakteristik ekonomi yang saling melengkapi, dengan Kabupaten Simalungun sebagai basis sektor pertanian dan industri pengolahan, sementara Kota Pematangsiantar terus berkembang sebagai pusat aktivitas perdagangan dan jasa," imbuhnya.

Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui Plh Sekretaris Daerah, Fidelis Sembiring menyambut baik dan memberikan apresiasi atas inisiatif Bank Indonesia.

Pemerintah Kota Pematangsiantar, katanya, mendorong penuh sinergi antara Pematangsiantar dan Simalungun.

"Sinergi ini akan membuka kesempatan usaha baru, meningkatkan kesempatan kerja, dan pada akhirnya bermuara pada dorongan kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi," tegas Fidelis.

Sejalan dengan hal tersebut, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB USU, Wahyu Sugeng Imam Soeparno, menyoroti pentingnya rekayasa kebijakan. Menurutnya, dampak pengganda dari KEK tidak muncul secara otomatis, melainkan harus diupayakan melalui penguatan keterkaitan lokal (local linkage).

"Satu kawasan, dua fungsi ekonomi yang saling melengkapi. Kuncinya adalah keterhubungan, kesiapan, dan kolaborasi. Tanpa rantai pasok lokal yang kuat, sumber daya dan tenaga kerja terbaik justru berisiko tersedot keluar wilayah, bukan menetap dan berputar di dalamnya," paparnya.

Dukungan terhadap konektivitas rantai pasok lokal juga disampaikan oleh Direktur PT Kawasan Industri Nusantara (Kinra), Alwin Abdi. Ia menegaskan kesiapan pengelola kawasan untuk mendorong UMKM di sekitar KEK guna menyuplai kebutuhan penyewa (tenant) industri melalui program Link and Match IKM.

Dari sisi hulu ketahanan pangan, Wakil Sekretaris Jenderal KTNA Kabupaten Simalungun, Zulfikar Damanik, menyoroti besarnya potensi Simalungun dalam produksi tanaman pangan, hortikultura, hingga kopi. Ia memastikan bahwa pertanian Simalungun sangat potensial untuk menyuplai pasokan pangan bagi KEK Sei Mangkei, asalkan kendala pemasaran yang kerap dialami petani dapat difasilitasi.Sektor pariwisata turut diproyeksikan mendapat imbas positif yang masif.

Ketua PHRI Kabupaten Simalungun, Robert Pardede, menyebut KEK Sei Mangkei sebagai "game changer" bagi perekonomian wilayah.

"Mobilitas pekerja industri dan tamu perusahaan di KEK akan memicu tingginya permintaan terhadap jasa akomodasi, restoran, dan katering. Simalungun tidak kekurangan potensi, namun diperlukan integrasi, konektivitas, promosi, dan investasi. Oleh karena itu, kami merekomendasikan pembentukan Simalungun Tourism Forum dan Tourism Corridor guna mengonversi perjalanan bisnis ini menjadi kegiatan pariwisata," ungkapnya.

Dalam sesi tanggapan, Pemerintah Kabupaten Simalungun yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati, Debora Hutasoit, menyampaikan respons positif dan strategis.

Untuk persiapan tenaga kerja, katanya, Pemkab Simalungun telah menyiapkan balai tenaga kerja dan berharap KEK Sei Mangkei dapat menyerap para pekerja secara maksimal.

Dikatakannya, terkait pertanian, posisi tawar (bargaining position) petani saat ini masih kurang akibat ketiadaan cold storage.

"Ke depan, kami mendorong KTNA untuk mensosialisasikan kepada petani agar tidak hanya menjual buah mentah, tetapi menangkap peluang hilirisasi produk, seperti menyuplai konsentrat buah untuk industri es krim (Aice) di kawasan," paparnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bappeda Kota Pematangsiantar, Sofie Saragih, turut menekankan harapannya agar KEK dapat memprioritaskan penyerapan tenaga kerja dari lingkungan sekitar kawasan. Sebagai konklusi, forum merumuskan kerangka tindak lanjut yang berfokus pada penguatan konsolidasi program yang konkret dan terukur untuk menangkap multiplier effect KEK.

Pematangsiantar didorong menjadi business and service hub (hospitality, MICE, perdagangan, transportasi), sedangkan Simalungun difokuskan sebagai production and tourism hub. Ke depan, langkah konkret akan diarahkan pada pembentukan local supply chain melalui business matching dan local procurement antara tenant KEK Sei Mangkei dengan pelaku usaha lokal.

Pada kegiatan tersebut juga memberikan tanggapan yang disampaikan, Kepala Dinas Kesehatan Simalungun dr. Debora Haloho, sedang dari Pematangsiantar yakni Kepala Bappeda Sofie Megawaty Saragih, S.STP, M. SI.

Selain itu juga, pada akhir kegiatan dilakukan sesi tanya jawab.**

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Maju Manalu
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru