Medan, MPOL -Kordinator Wilayah (Korwil) Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara (Sumut), Drs
Gandi Parapat menyebut
tontonan dan teka teki penangkapan tiga orang bos
MBG sekaligus kepercayaan
Jokowi dan
Prabowo tidak laku di masyarakat luas.
Baca Juga:
Gandi Parapat menilai Bos
MBG tersebut sebelum ditersangkakan, dan pemerintah melalui aparat hukum sudah meriasnya dengan beberapa ahli strategi agar kelihatan bekerja untuk kepentingan Bangsa dan Negara, bukan untuk
Jokowi dan
Prabowo ataupun partai musuh masyarakat luas di
MBG.
Dan mengherankan Bos No 1
MBG dikabarkan bergaji Rp 1M sehari, lain lagi tunjangan atau biaya operasional.
"Dan menurut kami, Bos
MBG ditangkap karena kuping aparat sudah panas mendengar mereka mengutip biaya dari seseorang/kelompok untuk membuat gudang/dapur. Setau kami belum ada pejabat negara termasuk Presiden yang bergaji Rp 1M sehari", kata
Gandi Parapat di Medan, Jumat (12/6/2026).
Kata Gandi, dari info yang diterima setiap yang punya dapur atau gudang
MBG mendapat Rp 6 juta satu hari, kalau ada 10 dapur milik satu orang berarti mendapatkan Rp 60 juta satu hari.
"Sungguh mulia program
Jokowi yang dijalankan presiden
Prabowo dan sangat tepat ungkapan
Prabowo "Hidup
Jokowi". Kalau ada penilaian
Jokowi dengan
Prabowo sudah pecah dengan bukti Bos
MBG ditersangkakan itu tidak benar. Dan Penggeledahan rumah Bos
MBG yang diduga penjahat itu dan menemukan beberapa barang berharga seperti uang yang dipertontonkan, agar masyarakat simpati", ujar
Gandi Parapat.
Dan hal itu bagi PMPHI Sumut serta masyarakat bukan penting dan tidak yakin
Prabowo mengkhianati
Jokowi. Hanya karena ditangkap yang diduga penjahat walaupun sudah dirias beberapa pakar kepercayaan penguasa.
"Prabowo itu orang yang konsekwen, tidak penghianat. Hanya kecurigaan kami pernah menyatakan
MBG itu program
Jokowi. Kami menilainya menguntungkan bagi Bangsa dan Negara.
Prabowo tidak perduli, yang penting program itu dilaksanakan", ujarnya.
Perbedaan kami dan masyarakat dengan Program
Prabowo agar
MBG itu dibatalkan karena, kami menilai
MBG itu kejahatan dan penghianatan kepada generasi penerus. Kenapa menjual generasi penerus untuk memperkaya orang kaya atau menggaji pejabat satu Rp 1M sehari. Kenapa uang negara itu tidak diberi langsung kepada yang bersangkutan (anak sekolah), hampir disetiap daerah yang memakan nasi kebanggaan
Prabowo itu menurut berita ada pingsan dan ada yang mati", ujarnya.
PMPHI Sumut katanya sangat sadar pemerintah
Prabowo sangat bangga dipuji dan dimanja, serta marah kepada orang atau kelompok yang memberi semangat dan dukungan melalui masukan atau kritik seperti masalah
MBG, Pembangunan Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih.
Ketiga program yang dirias para ahli agar masyarakat luas menerima dan malah bersumpah agar semua membenarkan cap kempol.
"Jadi ditangkapnya tiga Bos
MBG, menurut kami tidak bernilai, hanya diantara mereka saling cemburu. Kami tidak yakin hal itu pertanda keretakan
Jokowi dengan
Prabowo. Kami harapkan
Prabowo harus mengingat sampai mati jasa
Jokowi. Kami juga sangat berharap
Prabowo bekerja untuk kepentingan NKRI selama lima tahun kontraknya dan bisa diperpanjang lima tahun lagi", tutup
Gandi Parapat.**
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News