Humbahas, MPOL-Akademisi Universitas Negeri Medan (Unimed), yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis diundang sebagai narasumber dalam kegiatan pembinaan karakter dan motivasi belajar bertajuk "Mental Tangguh, Berhasil Tidak Instan, dan Strategi Belajar Efektif ala Gen Z bagi Peserta Didik Baru Tahun 2026 SMA Negeri 2 Lintongnihuta, Humbang Hasundutan (Humbahas), baru-baru ini (30 Juni 2026).
Baca Juga:
Wakil Kepala Sekolah, Alaris Sinaga, S.Pd., M.Pd, mengatakan, kegiatan ini secara sengaja disiapkan sebagai upaya menyiapkan generasi sekolah di SMA Negeri 2 Lintongnihuta yang berkarakter, berprestasi dan siap menjemput masa depannya yang gemilang.
Karena itu penyiapan peserta didik yang diharapkan sebagai komitmen serius dari kepala sekolah dan dewan guru dengan kerjasama dengan stakeholder sekolah lainnya, salah satunya dengan akademisi.
Demikian disampaikan kepada awak media (6/7/26).
Dihadapan ratusan peserta didik, Dion berkesempatan membagikan kisah hidupnya yang berangkat dari pelosok desa di Kuta Karangan, Kabupaten Dairi dan bisa beroleh pencapaian yang menggembirakan di Kota Medan.
Dion bercerita tentang masa kecilnya, tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, dan keterbatasan lainnya, namun bisa beroleh banyak pencapaian, seperti bisa mencapai seluruh jenjang pendidikan di perguruan tinggi negeri, dari sarjana hingga doktor, bisa mengabdi bagi negara sebagai Akademisi dan berdampak bagi masyarakat luas.
Semuanya diraihnya dengan kerja keras dan ketekunan yang tidak instan serta doa. Dion mengaku bahwa pernah menghadapi masa sulit dan masa pahit, tetapi tidak suka mengeluh, bangkit berjuang terus mencari jalan keluar, hingga akhirnya berhasil beroleh hasil yang menggembirakan.
Lewat kisah ini Dion bermaksud membangkitkan semangat peserta didik SMA Negeri 2 Lintongnihuta, bahwa bukan karena tempat dimana seseorang lahir yang jadi penentu keberhasilan baginya, melainkan karena kerja keras, ketekunan, dan kesiapan untuk berubah, fokus pada cita-cita yang dimilikinya, serta tekun berdoa.
"Siapapun bisa mencapai keberhasilan apabila kerja keras, berjuang dan berkorban, fokus dan berdoa", tegas Ketua Lembaga Konsultasi Pendidikan (LKP) Citra Sumut ini.
Dalam sesi sajian materi, Dion mengingatkan bahwa dunia yang akan dihadapi para peserta didik6 sekarang sangat berbeda dari dunia yang dihadapi generasi sebelumnya.
Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, internet, dan globalisasi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi secara mendasar.
Ia mengutip The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang menyebutkan bahwa keberhasilan generasi muda (peserta didik) sekarang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh nilai rapor, melainkan oleh kualitas karakter yang dibangun sejak dini, karena dunia kerja masa depan membutuhkan pribadi yang mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, bermental tangguh, dan mau belajar sepanjang hayat.
Diperlukan mental yang tangguh, penghargaan terhadap proses, dan strategi belajar yang efektif.
Lebih lanjut Dion mengajak peserta didik menyelami konsep growth mindset yang diperkenalkan psikolog Carol Dweck, yakni keyakinan bahwa kemampuan seseorang bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat terus berkembang melalui latihan, usaha, dan ketekunan.
Ia menekankan kekuatan satu kata sederhana yang menurutnya bisa mengubah segalanya: kata "belum". Berbeda dengan seseorang yang berkata "saya tidak bisa" dan menyerah begitu saja, seseorang yang berkata "saya belum bisa, tetapi saya akan terus belajar" memilih untuk tetap berusaha dan bertumbuh.
Belum berhasil, tegasnya, bukan berarti gagal; belum mampu bukan berarti tidak mampu; belum menang bukan berarti kalah; dan belum sampai pada tujuan bukan berarti perjalanan harus dihentikan. Untuk memperkuat pesan itu, Dion mengangkat kisah Nelson Mandela yang menghabiskan 27 tahun di penjara namun tidak membiarkan keadaan menghancurkan harapannya, hingga dari penderitaan itu justru lahir keteguhan seorang pemimpin yang paling dihormati di dunia.
Dion turut menyelipkan falsafah Batak "Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au", yang memaknai anak sebagai kekayaan paling berharga, sebuah nilai yang mendorong banyak orang tua berjuang keras, dengan bertani, berdagang, bahkan merantau demi pendidikan anak-anak mereka.
Kepada para siswa, Dion mengingatkan bahwa setiap kali mereka memasuki ruang kelas, sesungguhnya mereka sedang melanjutkan perjuangan panjang keluarga mereka sendiri.
Dion juga mengangkat filosofi pohon pinus yang tumbuh di perbukitan Humbang Hasundutan sebagai gambaran tentang proses menuju keberhasilan: akar yang kuat harus tumbuh lebih dahulu, bertahun-tahun dan tidak terlihat dari permukaan, sebelum batang menguat secara bertahap, dan barulah pohon itu menjulang tinggi sebagai hasil dari fondasi yang telah dibangun.
Ia mengingatkan bahwa media sosial hari ini kerap hanya menampilkan puncak dari sebuah keberhasilan tanpa memperlihatkan perjuangan panjang di baliknya. orang melihat dokter yang sukses tanpa melihat bertahun-tahun pendidikannya, atau pengusaha yang berhasil tanpa melihat kegagalan yang pernah ia lalui.

Mengutip penelitian Yeager dan Dweck (2020), ia menegaskan bahwa keberhasilan biasanya lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu panjang.
Sosok B.J. Habibie pun sebagai ilmuwan besar tidak lahir dalam satu malam, melainkan melalui disiplin belajar dan kerja keras yang jauh lebih menentukan ketimbang bakat semata.
Lanjut Dion mengurai empat langkah belajar yang cerdas dan terarah bagi generasi Z: membangun keyakinan bahwa diri mampu berkembang, sebagaimana siswa dengan growth mindset terbukti lebih siap menghadapi tantangan akademik dengan cara menetapkan tujuan belajar yang jelas, sebab belajar tanpa tujuan ibarat berlayar tanpa arah; mengelola penggunaan teknologi agar generasi muda menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya; serta menjadikan belajar sebagai proses yang tidak boleh berhenti setelah lulus sekolah, karena dunia akan terus berubah dan menuntut setiap orang untuk tetap relevan.
Ia melengkapi bagian ini dengan enam keterampilan kunci yang menurut World Economic Forum (2025) akan menentukan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja masa depan: berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, literasi digital, kemampuan beradaptasi, dan kemauan belajar sepanjang hayat.
Menutup seluruh paparannya, Dion merangkum tiga pesan bagi para siswa: membangun mental yang tangguh dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan, menghargai proses karena keberhasilan tidak pernah datang secara instan, serta belajar secara efektif dengan cara yang cerdas, kreatif, dan berkelanjutan demi menghadapi masa depan.
"Masa depan tidak ditentukan oleh tempat kita dilahirkan, tetapi oleh karakter, ilmu, kerja keras, dan iman yang kita pegang teguh," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dion pun memberikan buku yang ditulisnya berjudul 15 karakter entrepreneurship keutamaan sang pemenang kepada beberapa peserta yang terlipat aktif selama kegiatan berlangsung.
Dan Dion menutup acara memimpin doa, mendoakan agar Tuhan memberkati peseserta didik SMA Negeri 2 Humbahas dan menganugerahkan roh kepintaran dan kebijaksanaan dalam mengikuti pembelajaran dari guru, serta mendoakan parag guru agar semangat dan bergembira dalam melaksanakan tugasnya membelajarkan dan mendidik peserta didik di sekolah.**
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News