Minggu, 23 Agustus 2026

Proyek Drainase Rp30 Miliar di Nenassiam Retak, Warga Minta Kualitas Konstruksi Diperiksa

Muhammad Amin - Minggu, 23 Agustus 2026 17:57 WIB
Proyek Drainase Rp30 Miliar di Nenassiam Retak, Warga Minta Kualitas Konstruksi Diperiksa
Drainase baru dikerjakan sudah retak Minggu (22/08/2026)
Batu Bara, MPOL - Kondisi drainase yang baru dikerjakan di Desa Nenassiam, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, menjadi perhatian warga. Bangunan drainase yang merupakan bagian dari proyek bernilai sekitar Rp30 miliar itu dilaporkan mengalami keretakan pada Minggu (23/8/2026).

Baca Juga:
Warga mempertanyakan kondisi tersebut karena pekerjaan dinilai masih relatif baru. Kekhawatiran semakin besar mengingat kawasan tersebut disebut rawan banjir ketika musim penghujan.

"Di sini rawan banjir kalau musim hujan. Belum hujan saja bangunannya sudah retak. Bagaimana nanti kalau terkena banjir, bisa-bisa drainasenya roboh," kata seorang warga.

Selain keretakan, warga menyoroti pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Sejumlah pekerja disebut tidak menggunakan alat pelindung diri (APD). Warga juga mempertanyakan penggunaan air parit untuk mengaduk campuran semen.

Menurut warga, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pihak terkait untuk memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, prosedur keselamatan kerja dan ketentuan dalam kontrak.

Informasi yang dihimpun, proyek tersebut merupakan kegiatan peningkatan struktur jalan provinsi pada ruas Bandar Khalifah–Desa Lalang di Kabupaten Batu Bara. Pekerjaan bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026 melalui UPTD Bina Marga dan Cipta Karya Tanjungbalai.

Dalam dokumen proyek, kontrak tercatat dengan Nomor 602/BMCK/UPTD-TB/KPA/0504/2026 tertanggal 2 Juni 2026. Nilai kontraknya sebesar Rp30.253.157.386 dengan waktu pelaksanaan 210 hari kalender.

Penyedia jasa tercatat PT ASA Cipta Sarana, sedangkan konsultan supervisi yakni PT Secon Dwi Tunggal Putra.

Warga juga menyebut pembangunan drainase sebelumnya diduga dilakukan tanpa cerocok dan batu kerikil. Namun, dugaan terkait metode serta spesifikasi konstruksi tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan teknis oleh pihak berkompeten.

Aktivitas pengerjaan pada hari libur turut menjadi sorotan. Warga menduga pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengejar target penyelesaian. Di lokasi, warga mengaku melihat minimnya pengawasan terhadap para pekerja.

Tak hanya konstruksi, aktivitas proyek juga dikeluhkan karena menimbulkan debu. Warga di Kelurahan Pangkalan Dodek menyebut penyiraman di sekitar lokasi masih minim sehingga debu beterbangan hingga memasuki rumah warga.

"Anggaran besar, tetapi penyiraman minim. Debu beterbangan masuk ke rumah," ujar warga.

Warga berharap pemerintah daerah, instansi teknis maupun aparat penegak hukum (APH) dapat melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap proyek tersebut. Pemeriksaan diharapkan dapat memastikan pekerjaan sesuai kontrak dan memiliki kualitas serta ketahanan sebagaimana yang dipersyaratkan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia jasa maupun konsultan supervisi terkait keretakan drainase, penggunaan air parit, penerapan APD, serta dugaan minimnya pengawasan di lokasi proyek. (MA)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Marini Rizka Handayani
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru