Selasa, 08 September 2026

Klien Tak Lagi Hanya Mencari Publikasi, Peran Konsultan PR Makin Strategis

Jalaluddin Lase - Selasa, 08 September 2026 16:53 WIB
Klien Tak Lagi Hanya Mencari Publikasi, Peran Konsultan PR Makin Strategis
Jakarta, MPOL -Kebutuhan perusahaan terhadap konsultan public relations (PR) semakin bergerak dari eksekusi komunikasi menuju dukungan yang lebih strategis dan terukur. Studi terbaru Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menunjukkan hampir 100% perusahaan responden membutuhkan manajemen reputasi dan sekitar 75% membutuhkan market intelligence.

Baca Juga:
Pada saat yang sama, 25% responden menyatakan Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir yang diharapkan dari kegiatan komunikasi dan PR.

Studi bertajuk Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026 tersebut menghimpun insight dari 24 perusahaan di 19 sektor. Selain manajemen reputasi dan market intelligence, sekitar 60% responden membutuhkan integrated marketing communication dan sekitar 35% dukungan advokasi.

Temuan tersebut memperlihatkan semakin luasnya ekspektasi terhadap PR, dari publikasi dan eksposur menuju pengelolaan reputasi, intelligence, stakeholder, isu dan krisis, serta kontribusi yang lebih konkret terhadap organisasi.

Namun, meningkatnya ekspektasi tersebut belum sepenuhnya diikuti praktik pengukuran yang konsisten. Studi APPRI mencatat baru 36% responden melakukan pengukuran komunikasi secara berkala. Sebanyak 32% melakukan pengukuran hanya ketika proyek atau kampanye tertentu berlangsung, sementara 32% lainnya sama sekali belum melakukan pengukuran keberhasilan komunikasi.

Di sisi lain, terlihat juga mulai tumbuhnya kesadaran untuk bergerak dari pengukuran output menuju outcome dan impact. Sebanyak 37% responden menyatakan telah mengacu pada kerangka pengukuran yang dianjurkan oleh Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC), sementara 25% responden menyatakan ROI sebagai dampak akhir yang diharapkan organisasi dari kegiatan komunikasi dan PR.

Perubahan tersebut sejalan dengan upaya APPRI memperkuat standar profesional industri. Dalam agenda kepengurusan 2024–2027, APPRI telah merencanakan reformasi panduan pengukuran keberhasilan kerja PR dengan mengacu pada kerangka kerja yang dianjurkan AMEC. APPRI juga menilai praktik PR semakin dituntut lebih inovatif, terintegrasi dengan area kerja lainnya, berkelanjutan, serta dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis sehingga ukuran keberhasilannya perlu semakin konkret.

Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, melihat tuntutan terhadap hasil yang semakin konkret tersebut sebagai tantangan penting bagi industri. Menurutnya, pengguna jasa kini menuntut PR melampaui output menuju hasil yang lebih konkret bagi organisasi termasuk ROI. Akibatnya, industri perlu membangun metode pengukuran yang relevan dan disepakati sejak awal.

"Saat ini kita bekerja dalam ekosistem komunikasi yang sangat dinamis, dimana pengguna jasa konsultan PR menuntut pencapaian lebih jauh dari hanya sekadar output. Studi APPRI menyebutkan bahwa 25% pengguna jasa menginginkan Return on Investment sebagai bagian dari indikator keberhasilan kerja PR. Ini menunjukkan adanya dorongan agar kerja PR semakin dapat dikaitkan dengan hasil yang konkret bagi organisasi. Tantangannya adalah bagaimana industri dapat membangun metode pengukuran yang relevan dan disepakati bersama sejak awal," jelas Sari.

Reputasi Kini Dibentuk dalam Ekosistem yang Semakin Kompleks
Peningkatan ekspektasi terhadap PR berlangsung ketika pembentukan reputasi perusahaan menjadi semakin terfragmentasi. Persepsi terhadap organisasi tidak lagi hanya dipengaruhi pemberitaan media, tetapi juga percakapan di platform digital, komunitas, pengalaman konsumen dan karyawan, kreator, regulator, serta berbagai kelompok pemangku kepentingan.

Laporan We Are Social and Meltwater tentang tren utama digital dan media sosial di Indonesia di Indonesia 2026, mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, atau setara dengan 62,9% populasi. Jumlah tersebut meningkat sekitar 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu untuk media sosial termasuk konsumsi video online, atau lebih dari tiga jam per hari, dan mengakses rata-rata 7,7 platform setiap bulan.

Kompleksitas tersebut juga terlihat dalam pembentukan kepercayaan. 2026 Edelman Trust Barometer menemukan bahwa di antara responden yang mempercayai food and lifestyle influencer, 62% menyatakan akan mempercayai atau mempertimbangkan untuk mempercayai perusahaan yang sebelumnya tidak mereka percaya apabila perusahaan tersebut didukung oleh influencer yang mereka percayai. Pada responden yang mempercayai financial influencer, angkanya mencapai 57%.

Dalam riset yang sama, juga terdapat fakta bahwa misinformasi menjadi salah satu faktor yang dinilai memengaruhi kepercayaan terhadap orang dan institusi dalam lima tahun terakhir, disebut oleh 50% responden global. Perkembangan platform generative AI disebut oleh 37% responden.**

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Jalaluddin Lase
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru