Rocky Gerung di Unimed : Nalar Kritis Tidak Boleh Menjadi Alat Kekuasaan
Medan, MPOL Tokoh dan kritisi sepertiseperti Rocky Gerung tampaknya tidak tergoyahkan dalam debat bersama mahasiswapada Seminar Algoritma
Pendidikan
Baca Juga:
- Hari Kesaktian Pancasila 2026, Akademisi Unimed Ajak Sekolah dan Kampus Rawat Persatuan Melalui Tindakan Nyata
- Kuliah Tamu & Campus Hiring Yayasan Fisi Edukasi Indonesia : Menyiapkan Calon Pendidik Menghadapi Generasi Masa Depan
- Rektor Unimed Wisuda 2.133 Lulusan, Tekankan Pentingnya Adaptasi Hadapi Era AI
Silahkan saja kritisi
saya, tapi dengan nalar memperbaiki negeri ini, bukan narsis," ketus Rocky
Gerung saat dihujani kritik mahasiswa soal posisinya saat ini menjadi Anggota
Dewan Pertimbangan Presiden,(Wantimpres).
Secara diplomasi Rocky
Gerung tidak mau disalahkan atas keputusannya memilih posisi dalam pemerintahan
Prabowo. Meski dia tidak sampaikan tujuannya untuk mengabdikan diri pada Negara
ini, tapi secara ketus dia sampaikan bahwa dirinya tidak kekurangan materi
untuk melakukan hal hal yang disenanginya.
Saya bisa naik puncak
Himalaya pulang pergi dalam sehari, lah karena saya hobbynya naik gunung.
Darimana saya dapatkan uang untuk itu, saya tidak perlu menjadi ini itu, saya
punya uang. Dari dulu saya bilang, saya tidak kekuarangan uang," sindirnya.
Berdasarkan
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2026 gaji dan hak keuangan Ketua serta Anggota
Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ditetapkan sebesar Rp76,5 juta per bulan.
Dalam kesempatan singkat
dan cukup berharga sore hari itu, Gerung mengingatkan, perguruan tinggi harus berdiri di garis depan
untuk menjaga akal sehat, menguji gagasan, dan memastikan kehidupan demokrasi
tidak sekadar menjadi pertarungan uang dan kepentingan kelompok.
"Masa depan bangsa
terancam ketika nalar kritis dikalahkan oleh kepentingan material, politik
transaksional, dan kekuasaan," kata Rocky saat menjadi narasumber seminar
nasional itu.
Rocky juga menegaskan bahwa
kekuatan perguruan tinggi tidak semata-mata terletak pada jumlah mahasiswa,
fakultas, atau program studi, tetapi pada kemampuannya membangun tradisi
berpikir kritis dan rasional.
Ia menyoroti Unimed yang
memiliki sekitar 45 ribu mahasiswa. Jumlah tersebut, bukan sekadar angka
statistik, melainkan representasi dari 45 ribu perspektif, pemikiran, dan
harapan tentang masa depan Indonesia.
Potensi besar itu,
menurutnya akan menjadi kekuatan bangsa apabila kampus mampu merawat kebebasan
berpikir dan menghasilkan generasi yang berani menguji setiap gagasan secara
rasional.
Sebaliknya, potensi
tersebut bisa berubah menjadi kekecewaan apabila perguruan tinggi kehilangan
daya kritis dan membiarkan kepentingan material mengalahkan nilai-nilai
akademik.
Bagi Rocky, salah satu
fondasi utama kehidupan akademik adalah critical reasoning atau penalaran
kritis.
Kemampuan ini mencakup
kecakapan menguji pernyataan, menilai argumentasi, memeriksa bukti, serta
menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Disebutkannya, selama
perguruan tinggi mampu melahirkan manusia dengan kemampuan tersebut, maka tidak
ada alasan untuk kehilangan harapan terhadap masa depan Indonesia.
"Persoalannya muncul
ketika nalar kritis mulai tunduk pada uang, kepentingan politik praktis, dan
transaksi yang mengorbankan prinsip," ungkapnya.
Untuk itu Rocky mengajak
mahasiswa membedakan orientasi kehidupan bernegara dengan logika pasar yang
mengutamakan keuntungan material.
Dalam paparannya itu,
Rocky juga mempertentangkan algoritma bernegara, yang berorientasi pada
kepentingan bersama dan cita-cita kebangsaan, dengan algoritma pasar yang
cenderung menempatkan keuntungan sebagai pertimbangan utama.
Memurutnya setiap
gagasan, keputusan, dan kebijakan politik harus diuji melalui argumentasi yang
masuk akal, bukti yang memadai, serta dampaknya terhadap kepentingan publik.
Masyarakat tidak boleh
menerima suatu gagasan hanya karena disampaikan tokoh berpengaruh, didukung
kekuatan modal, atau dikemas melalui kepentingan politik tertentu.
Bagi Rocky, perguruan
tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan tradisi berpikir
kritis tetap hidup, terutama ketika Indonesia semakin mendekati siklus
pemilihan umum berikutnya.
Dalam situasi tersebut,
kampus tidak boleh sekadar menjadi penonton. Perguruan tinggi harus menjadi
ruang untuk menguji gagasan, rekam jejak, dan orientasi para calon pemimpin.
Mahasiswa dan kalangan
akademisi perlu memiliki kemampuan membedakan gagasan yang rasional dan
berpihak pada masyarakat dari manuver yang semata-mata mengejar kekuasaan.
Demokrasi, menurut pesan
yang disampaikan Rocky, tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya
pemilihan umum.
Demokrasi juga
membutuhkan warga negara yang mampu berpikir mandiri, menilai gagasan secara
kritis, dan menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional.
Politik Transaksional
Rocky juga menyoroti
godaan politik praktis yang dapat memengaruhi mahasiswa maupun kalangan
akademisi, terutama ketika kepentingan material mulai menggeser idealisme.
Ia menggambarkan
kehidupan akademik sebagai pekerjaan yang menuntut proses intelektual panjang.
Dosen harus mengajar,
membaca, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan. Namun, kerja intelektual
tersebut tidak selalu diikuti imbalan material yang sebanding.
Di sisi lain, politik
praktis dapat terlihat menjanjikan keuntungan yang lebih cepat. Kondisi ini
berpotensi menjadi persoalan ketika dukungan pemodal atau korporasi kepada
kandidat politik berkembang menjadi hubungan transaksional.
Ketika dukungan
diberikan dengan harapan memperoleh balasan, keputusan politik berisiko tidak
lagi berpijak pada kepentingan masyarakat, tetapi pada kepentingan pihak yang
membiayai atau menopang kekuasaan.
Karena itu, Rocky
mengingatkan pentingnya menjaga kemandirian berpikir dan integritas dalam
kehidupan akademik maupun politik.
Mahasiswa, menurutnya,
boleh terlibat dalam politik. Namun, keterlibatan tersebut harus disertai
keberanian mempertahankan prinsip dan tidak tunduk pada iming-iming keuntungan
material.
Kampus harus tetap
menjadi ruang bagi tumbuhnya pemikiran mandiri, bukan sekadar tempat
mempersiapkan generasi yang mudah terseret ke dalam mesin politik praktis.
Karena itu, perguruan
tinggi harus menjaga agar setiap gagasan dapat diuji, kekuasaan dapat dikritik,
dan keputusan publik dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Sementara itu, Plt.
Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Hariqo Wibawa Satria,
menekankan kehidupan bernegara yang sehat membutuhkan kebebasan berpikir,
kualitas gagasan, kecepatan merespons persoalan, serta keberanian mengevaluasi
penyelenggaraan pemerintahan.
Menurut Hariqo,
masyarakat harus memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan kritik tanpa
dihantui ketakutan akan kriminalisasi.
Ketika kritik terhadap
pemerintah justru diperlakukan sebagai ancaman, kehidupan bernegara berisiko
semakin tertutup dan masyarakat kehilangan keberanian untuk menyampaikan
kebenaran.
Namun, kebebasan
berpendapat juga harus diiringi kualitas pemikiran. Mahasiswa dan masyarakat perlu
membangun argumentasi yang masuk akal serta mampu menawarkan solusi terhadap
berbagai persoalan bangsa.
Hariqo menggarisbawahi
tiga hal penting dalam membangun algoritma bernegara, yakni perkuat kualitas
gagasan masyarakat, meningkatkan kemampuan merespons persoalan secara cepat dan
tepat.
Selain itu juga
menumbuhkan keberanian mengevaluasi kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan
secara terbuka.
Ia juga mengingatkan
mahasiswa agar lebih bijak menggunakan teknologi digital, terutama media
sosial.
Dalam konteks tersebut,
Hariqo menyinggung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan
pentingnya pengawasan untuk mendeteksi potensi penyimpangan.
Jika terjadi korupsi
dalam pelaksanaan program publik, persoalan tersebut harus menjadi bahan
evaluasi terhadap efektivitas sistem pengawasan.
Penindakan terhadap pihak
yang terbukti melanggar hukum juga diperlukan untuk memastikan akuntabilitas
penyelenggaraan pemerintahan.
Menurut Hariqo,
algoritma bernegara yang sehat tidak hanya bergantung pada sistem pemerintahan,
tetapi juga pada kualitas berpikir masyarakat, keterbukaan terhadap kritik,
kecepatan merespons persoalan, dan keberanian mengawasi kekuasaan.
Kampus Ruang Gagasan
Kritis
Rektor Unimed Prof. Dr.
Baharuddin, ST, M.Pd., saat membuka seminar menegaskan perguruan tinggi
memiliki tanggung jawab besar, bukan hanya mengembangkan ilmu pengetahuan,
tetapi juga menghadirkan gagasan dan pemikiran kritis untuk menjawab persoalan
bangsa.
Menurutnya, kampus harus
menjadi ruang intelektual yang terbuka, tempat beragam perspektif dipertemukan,
gagasan diuji, dan penelitian dikembangkan secara rasional serta bertanggung
jawab.
Seminar Nasional
Algoritma Bernegara menjadi momentum untuk merefleksikan bagaimana
prinsip-prinsip kenegaraan dijalankan, bagaimana kepentingan masyarakat
ditempatkan dalam pengambilan keputusan, serta bagaimana perguruan tinggi
berkontribusi terhadap masa depan bangsa.
Ia juga mengapresiasi
partisipasi perwakilan perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara yang dinilai
mencerminkan pentingnya kolaborasi antarkampus dalam memperkuat ruang diskusi
intelektual.
Menurutnya, perguruan
tinggi harus terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui gagasan yang
relevan, keberanian menyampaikan pemikiran kritis, dan kemampuan menghadirkan
manfaat nyata bagi masyarakat.
Seminar tersebut
dihadiri Ketua Senat Unimed Prof. Dr. Martina Restuati, M.Si., para wakil
rektor, para dekan, dosen, serta ketua panitia seminar Dr. Novita, M.Pd.
Diskusi dipandu moderator Dr. Tappil Rambe. (bp)
Medan, MPOL Tokoh dan kritisi sepertiseperti Rocky Gerung tampaknya tidak tergoyahkan dalam debat bersama mahasiswapada Seminar Algoritma
Pendidikan
Pancur Batu, MPOL Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pancur Batu terus berinovasi dalam menghadirkan program pembinaan kemandirian ya
Ekonomi
P. Siantar, MPOL Patampei Sihilap (Pelantikan) dan Marsombu Sihol (Temu Kangen) Harungguan Sinaga Boru Panagolan (DPP HSBP) Indonesia Peri
Sumatera Utara
Pancur Batu, MPOL Lapas Kelas IIA Pancur Batu kembali melaksanakan tes urine bagi warga binaan sebagai upaya memperkuat pengawasan serta me
Hukum
Medan, MPOL Setelah digelar selama satu bulan lebih, akhirnya turnamen Badminton ke 2 Tahun 2026 PB Mitra Sporty Medan ditutup, Sabtu (24/
Olahraga
Asahan, MPOL Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT ke 67) pada 28 Oktober 2026, oganisasi kemasyarakatan (Ormas) Pemuda Pancasila (PP) Pimpinan
Sumatera Utara
Jakarta, MPOL Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin mendukung terhadap pengembangan sepak bola nasional melalui pembinaan talenta sejak usia di
Nasional
P. Siantar, MPOL Ribuan masyarakat Kota Pematangsiantar ikuti kegiatan Fun Run dan Car Free Day (CFD) yang digelar DPD Komite Nasional Pe
Sumatera Utara
Serdang Bedagai, MPOL Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, Sugiono, S.Sos sangat m
Sumatera Utara
Serdang Bedagai, MPOL Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) terus mendorong pengembangan kreativitas, seni, dan olahraga se
Sumatera Utara