Kamis, 23 April 2026

Biaya Energi Meningkat, PT Wahana Safety Indonesia Dorong K3 Jadi Kunci Efisiensi Industri

Hendro - Kamis, 23 April 2026 15:42 WIB
Biaya Energi Meningkat, PT Wahana Safety Indonesia Dorong K3 Jadi Kunci Efisiensi Industri
Direktur Sales & Marketing PT Wahana Safety Indonesia Fransiskus B. Hermanto bersama Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumut Yuliani Siregar dan peserta seminar menunjukkan helm keselamatan usai pembukaan seminar penguatan budaya K3 dalam pengelolaan risiko bahan kimia di industri, di Medan, Rabu (23/4/2026). (Foto : Hendro Budiman).
Medan, MPOL - Kenaikan biaya energi dan meningkatnya tekanan operasional mendorong pelaku industri mencari strategi efisiensi yang lebih berkelanjutan. PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kini memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan daya saing industri.

Baca Juga:
Hal tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk "Penguatan Budaya K3 dalam Pengelolaan Risiko Bahan Kimia di Industri" yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara, di Medan, Kamis (23/4).

Kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP ini dihadiri lebih dari 400 peserta dari berbagai sektor industri di wilayah Sumatera Utara.

WSI melihat bahwa volatilitas harga bahan bakar minyak (BBM) memberikan dampak langsung terhadap biaya logistik, produksi, hingga distribusi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan efisiensi berbasis pengurangan biaya semata, melainkan perlu mengoptimalkan sistem operasional secara menyeluruh.

Direktur Sales & Marketing PT Wahana Safety Indonesia, Fransiskus B. Hermanto, menegaskan bahwa K3 merupakan salah satu faktor kunci yang sering kali belum dimaksimaikan oleh perusahaan.

"Banyak perusahaan masih melihat K3 sebagai cost center, padahal dalam praktiknya K3 justru menjadi salah satu driver efisiensi terbesar. Satu insiden saja dapat menghentikan operasional dan menimbulkan kerugian berlipat, mulai dari downtime produksi hingga biaya kompensasi," ujarnya.

Menurutnya, kecelakaan kerja tidak hanya berdampak pada keselamatan tenaga kerja, tetapi juga memicu berbagai biaya tidak langsung seperti gangguan produksi, penurunan produktivitas, hingga risiko reputasi perusahaan. Oleh karena itu, implementasi K3 yang tepat dapat menjadi langkah preventif yang berdampak langsung pada efisiensi operasional.

Implementasi K3 yang optimal dinilai mampu Menjaga kontinuitas operasional, Meningkatkan produktivitas tenaga kerja, Mengurangi potensi kerugian finansial, dan Menciptakan sistem kerja yang lebih efisien dan terukur.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam memperkuat penerapan K3 di berbagai sektor.

Menurutnya, peningkatan standar keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, WSI terus mendorong implementasi Gerakan Keselamatan Nasional (#MulaiDariSaya) yang mengedepankan perubahan paradigma terhadap K3 sebagai strategi bisnis yang mampu mendorong efisiensi, menjaga keberlanjutan operasional, serta memperkuat daya saing industri nasional di tengah dinamika ekonomi. (Dro/R).

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru