Medan, MPOL: Dampak destruktif banjir
longsor menghantam "seantero" wilayah
Gayo Lues sampai hari (17/12/2025) ini belum membuat kehidupan di sana berjalan normal.
4 ribu rumah warga kabupaten berjuluk Negeri Seribu Bukit itu hancur bersama 112 titik infrastruktur.
Baca Juga:
"Akses ekonomi warga belum normal karena masih banyak jembatan dan ruas jalan vital terputus. Kondisi infrastruktur di sini mengalami kerusakan yang hebat," kata Kadis Perkim (Perumahan dan Kawasan Pemukiman)
Gayo Lues,Jakaria, S.Hut., Rabu siang (17/12/2025).
"(jaringan) Internet di sini sampai sekarang masih lelet," imbuhnya via sambungan WhatsApp.
Pengakuan senada juga dilontar H. Jata, mantan Sekda
Gayo Lues.
"Belum, ini (akses internet) dapat di rumah sakit (Muhammad Ali Kasim) pakai Starlink," tuturnya.
Sebelumnya, laporan mencekam Kadis Jakaria diterima wartawan Anda pada Senin lalu (1/12/2025), 3 hari setelah amuk banjir
longsor meluluhlantakkan 50 desa di semua wilayah kecamatan se-
Gayo Lues.
"
Gayo Lues lumpuh total. Banyak korban,
longsor di mana mana, masyarakat kelaparan, arus ribuan
pengungsi terus berjalan," kata Jakaria, saat itu.
Saat ini, menurut dia, satu-satunya akses keluar dari Blangkejeren -ibukota
Gayo Lues- hanya melalui Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Tapi jalur penuh kelok itu dikenal memiliki kondisi jalan rada ekstrim.
Akses ekonomi terdekat
Gayo Lues selama ini hanya Kabupaten Aceh Tenggara. Jalur via Kutacane itu diketahui lebih cepat dan mudah dilalui, termasuk menuju wilayah Sumatera Utara.
Namun belum ada sinyal dari pemerintah menyatakan rute
Gayo Lues - Aceh Tenggara bisa dilintasi kembali oleh kendaraan roda empat. Kondisi yang sama juga terjadi pada jalur
Gayo Lues ke Aceh Tengah. Begitu pula rute mengarah Aceh Timur.
"Pokoknya (saking sedihnya) belum bisa terkatakanlah nasib banyak saudara kita di
Gayo Lues," timpal Bambang (41), perantau asal Blangkejeren di Medan, siang tadi (17/12/2025).
Dia, yang hari-hari ini rajin mengontak kerabat di
Gayo Lues, menyebut transportasi publik di sana belum beroperasi secara normal.
"Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (Aceh) pada nganggur. Masih terputusnya hubungan
Gayo Lues ke daerah luar kabupaten jelas membawa penderitaan bagi masyarakat di sana. Banyak warga yang ngaku bingung. Selain ancaman krisis logistik, bagaimana pula mereka menjual hasil pertanian dan kebun?" paparnya.
Pun dikelilingi hutan tropis dengan luas terbesar di Asia Tenggara,
Gayo Lues tercatat menjadi daerah terparah dari 16 wilayah kabupaten/kota di Aceh yang terkena amuk bencana dramatis ujung November lalu.
Nah, merujuk aksi Bareskrim Polri menemukan banjir
longsor hebat di Kabupaten Tapsel (Tapanuli Selatan) diduga sebangun dengan ulah sindikat perambah hutan dan penambang emas wilayah itu, apa pula indikator biang petaka maut di
Gayo Lues?
Sinyalnya, idem ditto.
Hujan bertubi sejak Kamis (27/11/2025) hingga Jumat (28/11/2025) lalu itu praktis membuat hutan
Gayo Lues yang kian botak kehilangan fungsi menyerap karbon sekaligus bank air.
Seiring problem hutan masa ke masa digunduli untuk diduitkan, Pemkab
Gayo Lues pun ditemukan memiliki kebijakan sewarna lakon Pemkab Tapsel. Kabupaten dengan bentang alam berlanskap Bukit Barisan Aceh ini turut melayani nafsu konglomerat pemilik bisnis tambang emas.
Dampaknya?
Lebih 70 ribu hektar hutan lindung di hulu
Gayo Lues wilayah Kecamatan Pantan Cuaca dilaporkan mengalami deforestasi dua tahun terakhir. Eksploitasi penambangan emas juga membuat perut kabupaten pemilik 11 wilayah kecamatan itu dibor hingga kedalaman 1.800 meter.
Alih-alih mengamini warning ekologi Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Aceh soal mudarat penambangan, Pemkab
Gayo Lues menyorong lima wilayah kecamatan lain di sana sebagai lokasi baru mengeruk emas.
Usul soal itu diketahui terjadi sebulan sebelum alam mengamuk dahsyat akhir November lalu.
Lantas, apa hikmah bencana di sana?
Dikontak ulang kali lewat sambungan WhatsApp, wartawan Anda hingga Rabu (17/12/2025) belum berhasil menghubungi
Bupati
Gayo Lues, Suhaidi. (fm)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Josmarlin Tambunan