Medan, MPOL - Eksistensi dan ketegaran hidup media massa, khususnya media online yang tergolong dalam media pers, saat ini dan ke depan ditengarai masih dalam kondisi krusial. Kesulitan utama terletak pada pemenuhan kebutuhan operasional karena dari pemberitaan sangat sukar menghasilkan finansial, sementara dampak ikutannya termasuk rentannya penegakan integritas dalam menjalankan fungsi dan peran sebagai media pers yang profesional.
Baca Juga:
Rangkuman pendapat ini diakumulasi dari forum diskusi "Ngobrol Pintar Berkualitas" yang diselenggarakan Ikatan Media Online (
IMO) Sumatera Utara, dengan pembicara utama praktisi pers internasional, Asyari Usman, seorang wartawan senior BBC London, Inggris. Diskusi berlangsung Jumat (9/10/2026) petang di Medan, diikuti sekitar 40 wartawan baik anggota
IMO maupun dari berbagai media massa lainnya.
Asyari sependapat bahwa ada sederet tantangan berat yang dihadapi hampir seluruh media online (yang tergolong dalam media massa/pers). Namun problema paling krusial adalah faktor finansial, sebab pemasukan (income) bagi media online yang semata bersumber dari iklan dan/atau berita berbayar (pariwara) tidak mudah diperoleh.
Faktor keterbatasan financial inilah menyebabkan, kerap suatu media online tidak mampu mempertahankan eksistensinya dalam jangka waktu lama. Sejauh ini, kemungkinan ada sebagian media online yang berkesempatan menjalin kerja sama dalam penyebarluasan informasi kepada masyarakat, misalnya, dengan Pemerintah Daerah baik provinsi maupun kabuapten/kota, baik dalam bentuk iklan ataupun pariwara (berita berbayar).
Namun, katanya, karena bentuk kerja sama seperti itu sangat terbatas, maka pemasukannya tidak cukup untuk menopang kebutuhan bagi oprasional media online bersangkutan. Itu sebabnya, banyak pekerja pers pada media berkondisi seperti demikian tidak mampu memberi gaji secara memadai kepada jurnalis maupun pekerja lainnya. Bahkan untuk memenuhi biaya operasional perusahaan saja pun kemungkinan sangat kesulitan.
Problema serupa, menurut Asyari, dialami media online secara global, bukan hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Di luar negeri pun, ada perusahaan yang memiliki media cetak dan media online, terpaksa harus menghentikan media cetaknya akibat kesulitan financial. Kenapa media online yang dipertahankan, tak lain karena biaya operasionalnya lebih rendah sehingga masih bisa memada-madakan finansialnya. Hanya saja, tidak dapat diprediksi sampaikan kapan media online tersebut tetap bisa eksis jika tanpa pemasukan (income) yang memadai.
Kondisi media online yang mengalami krusial sedemikian, berdampak pada lemahnya integritas dalam menjalankan fungsi dan peranan sebagai media pers. Sebab para awak medianya, terutama para jurnalisnya, bisa lebih cenderung mengambil langkah pragmatisme dalam memperoleh uang bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Karenanya. sikap kritis secara independen dan professional menjadi menjadi sulit diharapkan, terutama terhadap pihak-pihak yang memberikan kerja sama sebagai sumber pemasukannya.
Padahal, tutur Asyari, sebenarnya di Indonesia sendiri ada contoh-contoh media online yang bisa eksis secara mapan bahkan mendapat income berlimpah, tanpa bergantung dengan meminta-minta kerja sama pada pihak-pihak tertentu, misalnya pemerintah stempat.
Media seperti ini, kemungkinan memang sejak dari awal beroperasi benar-benar bekerja keras sesuai fungsi dan peranannya sebagai media pers. Ia menciptakan berita orisinal, yaitu berita yang dicari sendiri oleh jurnalisnya bahkan dengan melakukan investigasi, yang topiknya pun benar-benar berupa informasi yang dibutuhkan masyarakat sehingga akhirnya menjadi media online yang setiap saat dicari oleh pembaca. Media seperti ini mengisi kolomnya tanpa bergantung pada press release (siaran pers), atau dengan hanya repost dari bahan-bahan berita yang diambil dari sumber-sumber yang sudah lebih dahulu mempostingnya.
"Jadi, artinya, bukan tidak bisa suatu media online eksis dan mapan. Memang sulit, apalagi berbagai faktor dan kondisi yang dihadapi saat ini, tetapi tetap punya kemungkinan bisa. Hanya saja memang diperlukan kesungguhan dan kerja keras, terutama kesiapan dalam segala aspek (termasuk ketersediaan finansial) dalam mengelola media online tersebut," ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut, dari peserta juga muncul berbagai keluhan atas berbagai bentuk yang dirasakan sebagai penghambat bagi kemajuan media online, termasuk regulasi dari institusi terkait. Namun hal ini tentu tidak mendapat pemecahan atau solusi memadai, karena lebih bergantung pada pembuat regulasinya. Namun demikian, diharapkan
IMO dapat menjembatani penyampaian aspirasi kepada pihak pemerintah.
Diskusi ini dibuka oleh Ketua
IMO Sumut Ahmad Nuar Erde, ditandai dengan menyerahkan cendera mata kepada pembicara utama Asyari Usman. Sedangkan dalam diskusi, bertindak sebagai moderator adalah Sekretaris
IMO Sumut Drs. Harun Alrasyid. (am)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News