Sabtu, 24 Oktober 2026

Program SULE-WM Kolaborasi Berkah Bagi Peningkatan Kesejahteraan Pemulung

Alfiannur - Jumat, 23 Oktober 2026 22:56 WIB
Program SULE-WM Kolaborasi Berkah Bagi  Peningkatan Kesejahteraan Pemulung
Ketua YASABANI-Bendry Sagala (kaos putih lengan panjang), dalam kegiatan Exhibition Day bertema Partnership to Impact: Ketika Kolaborasi Tidak Berhenti di Atas Kertas, Kamis (22/10/2026) kemarin.
Medan, MPOL - Program SULE-WM (Scaling Up Local Enterprise on Waste Management) yang bertujuan memperkuat sistem pengolahan sampah lokal di berbagai daerah, khususnya pengelolaan pengolahan sampah plastik. Pada akhirnya diharapkan bakal meningkatkan kesejahteraan para pemulung, pengepul sampah dan plastik.Hal itu disampaikan Bendry Sagala, Aktifis lingkungan pendiri Bank Sampah Induk (BSI) Sagala 54 dan Pendiri Bank Sampah Unit (BSU) 3G Sagala 54. Harapan ini disebutkan Bendry, disela kegiatan Exhibition Day bertema Partnership to Impact: Ketika Kolaborasi Tidak Berhenti di Atas Kertas, di Restoran Bumbu Nusantara, Jalan Gatot Subroto No 143 Medan, Kamis (22/10/2026) kemarin.

Baca Juga:
Apalagi tambah Bendry Sagala-Ketua YASABANI (Yayasan Sagala Bakti Negeri) kerap dipanggil rekannya sesama aktifis lingkungan dan persampahan itu dengan sebutan Bapak Pemulung Mebidang, target SULE-WM menyerap dan mengelola setidaknya 10.000 ton sampah agar tidak berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga tahun 2030. Dapat lebih dimaksimalkan, jika keberadaan para pemulung, dan pengepul sampah yang ada di Sumatera Utara khususnya MEBIDANGRO(Medan, Binjai, Deliserdang, Karo), dapat lebih diorganisir secara manajerial yang lebih baik.

Jika seluruh pemulung dan pengepul sampah dan sampah plastik yang ada dapat disatukan dan dihimpun, hingga barang mereka berupa loak, sampah, sampah plastik dapat disalurkan ke bank-bank sampah yang ada, sebut Bendry. Tentunya takkan ada lagi timbunan sampah dan sampah plastik yang bersarang secara tersembunyi-sembunyi, dipelosok pelosok dan sudut sudut kawasan perkotaan, seperti pinggiran sungai, pinggiran jalan raya, dan persimpangan perbatasan kawasan Medan dan Deliserdang.

"Memfasilitasi para pemulung, pengepul dan Bank Sampah ini, akan lebih menghemat anggaran pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan dalam hal tata kelola persampahan. Apalagi mereka yang dalam kesehariannya lebih dekat dengan sampah yang ada dirumah-rumah dan lingkungan warga", papar Bendry Sagala yang juga Ketua DPD PROPAS(Pro Prabowo Subianto) Sumatera Utara itu.

Karenanya Bendry Sagala mengharap dukungan aparat dan perangkat pemerintah kabupaten-kota pada tingkat desa, lurah, dan kecamatan dapat lebih diberdayakan. Hingga para kepala desa, lurah, serta camat tadi, tidak harus dipusingkan urusan tumpukan sampah, khususnya sampah plastik yang disurukkan (dibuang pada daerah daerah tersembunyi), dalam wilayah kerja mereka.

Bendry Sagala sangat berbesar hati agar para kepala desa, lurah dan camat dapat membantu memfasilitasi para pemulung yang ada didaerahnya, dengan memberikan ijin pendirian bank sampah dikawasan mereka. Hingga keberadaan bank-bank sampah tadi dapat meminimalisir keberadaan sampah dan sampah plastik pada daerah masing-masing, seperti desa, kelurahan dan kecamatan.

"Kita dengar Bupati Deliserdang dan Dinas Lingkungan Hidup Deliserdang pusing menghadapi tumpukan sampah dan sampah plastik. Sementara ada solusi dengan menghadirkan bank sampah dikawasan mereka seolah tidak direspon positif. Bahkan di Desa Bandar Klippa, ada pengepul yang bahkah sudah memiliki NIB untuk rekomendasi pendirian bank sampahnya saja sudah hampir 2 tahun tidak diberikan", heran Bendry Sagala.

Terakhir Bendry Sagala mengajak seluruh pihak untuk berpikiran positif, andaipun ada sedikit materi yang diperoleh para pengepul dan pemulung sampah serta sampah plastik. Pendapatan itu, toh lebih banyak digunakan bagi pengolahan sampah. Dan sewajarnyalah aparatur perangkat pemerintah lebih banyak memberikan bantuan terutama dari fasilitasi bantuan administrasi pemerintah, seperti pemberian rekomendasi pendirian bank sampah unit, dan bank sampah induk.

Program SULE-WM (Scaling Up Local Enterprise on Waste Management), merupakan Program SULE-WM merupakan inisiatif akselerasi bagi perusahaan dan entitas bisnis pengelolaan sampah terpilih dari lima wilayah di Indonesia, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Untuk Provinsi Sumut, program tersebut dilaksanakan oleh Perkumpulan Arta Jaya yang berperan sebagai implementator program yang mendorong penguatan usaha pengelolaan sampah lokal melalui pendampingan, pengembangan model bisnis, serta perluasan jaringan kemitraan.( fitri)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru