Kamis, 11 Juni 2026

Pendidikan Bukan Sekadar Sistem, Tapi Investasi Masa Depan Bangsa

Zainul Azhar - Kamis, 11 Juni 2026 15:28 WIB
Pendidikan Bukan Sekadar Sistem, Tapi Investasi Masa Depan Bangsa
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati mengatakan dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Menata Masa Depan: Transformasi Pendidikan Indonesia untuk Generasi Emas” Kamis (11/6) di DPR RI Jakarta.
Jakarta, MPOL - Pendidikan bukan sekadar sistem tapi investasi masa depan bangsa demikian Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati mengatakan dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema "Menata Masa Depan: Transformasi Pendidikan Indonesia untuk Generasi Emas" Acara juga diawali dengan penyerahan paket perlengkapan sekolah secara simbolis kepada peserta, Kamis (11/6) di DPR RI Jakarta.

Baca Juga:
Menurutnya transformasi pendidikan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh agar generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus memiliki karakter yang kuat.

Indonesia saat ini, berada pada momentum yang sangat penting untuk menyongsong Generasi Emas 2045. "Dasarnya tentu pendidikan, karena melalui pendidikan kita dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global."

Transformasi pendidikan harus tetap berpijak pada amanat Pasal 31 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945, yang menekankan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membentuk generasi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kompetensi unggul.

Pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi akademik agar Indonesia mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berdaya saing internasional.

Kurniasih juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap digitalisasi pendidikan yang saat ini menjadi salah satu fokus pembangunan nasional. Namun, ia mengingatkan masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan yang perlu segera diatasi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Digitalisasi pembelajaran sangat penting karena kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Tetapi di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah 3T agar mereka juga mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas."

Selain persoalan pemerataan akses pendidikan, Kurniasih menilai penguatan karakter peserta didik masih menjadi tantangan besar. Berbagai persoalan sosial yang melibatkan generasi muda, menurutnya, menunjukkan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Dunia pendidikan juga harus mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri sehingga dapat terserap secara optimal di dunia kerja.

Sebagai mitra pemerintah di bidang pendidikan, Komisi X DPR RI, kata Kurniasih, terus melakukan fungsi pengawasan sekaligus mendukung berbagai program peningkatan kualitas pendidikan melalui kebijakan dan penganggaran.

"Kami terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan agar mampu meningkatkan daya saing Indonesia dan memperkuat reputasi bangsa di mata dunia," ujar legislator dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu lagi.

Lebih lanjut, Kurniasih mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha hingga media massa, untuk berkolaborasi membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, berkarakter, dan berdaya saing global.

Menurut dia, transformasi pendidikan memerlukan arah kebijakan yang jelas, terukur, dan dapat dievaluasi secara berkala agar target menuju Generasi Emas 2045 dapat dicapai.

Revisi UU Sisdiknas

Dalam kesempatan tersebut, Kurniasih juga menyinggung pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang saat ini tengah berlangsung. Revisi itu merupakan proses kodifikasi dan harmonisasi dari Undang-Undang Sisdiknas, Undang-Undang Guru dan Dosen, serta Undang-Undang Pendidikan Tinggi.

Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan guru, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai ujung tombak transformasi pendidikan nasional.

"Guru dan dosen adalah pihak yang akan mendidik generasi penerus bangsa. Karena itu, kesejahteraan mereka harus menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional," tutur Kurniasih.

Sedangkan wakil Rektit Universitas Paramadina Harry TY Achsan mengatakan mengajak untuk melihat pendidikan nasional sesungguhnya ada satu pertanyaan besar yang mungkin pertanyaannya harus diubah ya bagaimana pendidikan Indonesia hari ini tapi kita harus coba apakah pendidikan Indonesia hari ini mampu menghasilkan Indonesia yang kita cita-citakan pada tahun 2045 nanti.

Kita mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045 pada saat kita berusia 100 tahun kemerdekaan pada saat tersebut puncak bonus demografi karena beberapa tahun kemudian kita akan menghadapi populasi atau grafik penduduk yang menua pada saat itu 2/3 dari penduduk kita adalah angkatan pekerjaan angkatan yang produktif karena jumlah penduduknya produktif tetapi perusahaan sedikit anak-anak relatif sedikit orang tua yang sudah relatif sedikit kemudian kita mempunyai kesempatan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Kalau kita lihat Korea Selatan kemudian Cina Jepang Cina masih berlangsung ya pertumbuhan apa eee bonus demografi ini tapi Korea Selatan Jepang sudah berhasil mereka sudah pada fase demokrasi penduduknya penduduk tua sehingga angkatan kerjanya itu lebih sedikit kalau bapak lihat banyak sekali kisah-kisah di YouTube bisa bisa di Jepang itu kosong jadi menghasilkan petani dari Indonesia karena angkatan kepercayaan paling sedikit tahun 70-an dan beras dari bonus demografi di Jepang di Korea tahun 2000-an bisa berakhir sebentar lagi berakhir kita masih jauh masih jauh masih seperempat abad lagi kalau kita tidak tangani dengan baik akan menjadi gatal bukan menjadi bonus tapi menjadi beban pertanyaannya itu bukan apakah Indonesia memiliki cukup penduduk usia produktif tetapi apakah sistem pendidikan Indonesia mampu mengubah penduduk usia produktif menjadi SDM yang produktif ini penting sekali bapak ibu kalau kita lihat ya Filipina India Filipina masih dalam bonus demografi India juga jangan sampai kita menghadapi seperti itu kalau kita lihat Bapak Ibu di Korea Selatan yang dulu miskin sekali tahun 60-an tapi sekarang Bapak Ibu bisa lihat ya dianggap sebagai negara maju Singapura enggak punya sumber daya alam sekarang sudah menjadi pusatnya ekonomi global PDB perkapita di Singapura itu hampir hampir 20 ya hampir 20 kalinya kita yang paling kaya kalau Indonesia bekerja satu tahun di Singapura cukup satu tahun yang kurang dari 1 tahun sama penghasilannya begitu juga di Korea Selatan ya insyaallah kita di tahun 2045 bisa mencapai hal tersebut.

Ini prediksi bukan dari peneliti Indonesia saja dari penelitian juga mengatakan seperti itu Bapak Ibu yang saya hormati ada satu data yang seringkali kita tidak ketahui yaitu bahwa pendidikan di Indonesia ini sudah bagus coba kita bandingkan dan Bapak Ibu eee apa ini posisi Indonesia mohon maaf ini datanya data tahun 2021 karena data dari oi ois ini kita sampai sekarang belum bisa dijadikan anggota tetap yang sehingga ee datanya tidak ditampilkan lagi Cina juga sekarang sudah enggak bisa sampaikan lagi masih belum bisa menjadi anggota tetap sedang mendaftar tapi belum bisa Nah kalau dibandingkan negara-negara maju proses yang sudah lulus S1 S2 itu memang sudah lebih kecil tetapi kalau kita lihat kita bandingkan dengan China kita lebih tinggi persentasenya bapak ibu ya untuk yang pascasarjana lulusan pasar sarjana kita jauh lebih tinggi lima kali lipatnya persentase dengan India kita juga lebih tinggi ini satu hal yang harus diapresiasi ini adalah hasil dari parlemen kita melakukan amandemen yaitu pada tahun 2002 di mana diamanatkan bahwa minimal 20% APBN dan APBD itu adalah untuk pendidikan pada bapak ibu eee standart 15 sampai 20% jadi sangat jarang sekali negara yang undang-undangnya itu menetapkan 20% atau lebih APBN untuk pendidikan jadi tantangan kita sekarang bukan anggaran lagi bapak ibu tantangan kita adalah bagaimana meningkatkan kualitas sdm meningkatkan kualitas riset meningkatkan kualitas inovasi kita dan meningkatkan daya saing bangsa.

ini adalah tantangan yang harus kita hadapi namun Bapak Ibu kalau kita berbicara tentang kualitas kita bisa lihat di sini perguruan tinggi kita itu yang unggulnya agar kita bisa unggul atau hanya empat persen lebih dari 60% itu baik baik itu kalau istilah lama adalah terjadi bisa bayangkan kalau anak-anak kita yang cantik-cantik ini kemudian akan kata-kata ini dapat nilainya itu 60% sehingga pasti kita kecil sama sekali apakah kita harus menyalahkan badan akreditasi Nasional ya tentu tidak ada karena ini sebenarnya juga terlihat ini adalah hasil peringkat time hair education klik yang terbaru dari top 100 Cina itu menyumbang 35 universitas ini top 100 asia bukan dunia, tutur Harry TY Achsan. (ZAR)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Marini Rizka Handayani
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru