Senin, 29 Juni 2026

Luar Biasa, Santri Baitul Mustagfirin Raih Silver Medal Bidang Sain di Bali

Abdul Haris - Senin, 29 Juni 2026 19:31 WIB
Luar Biasa, Santri Baitul Mustagfirin Raih Silver Medal Bidang Sain di Bali
Tim Santri Baitul Mustaghfirin Al Amir diabadikansaat bertandang dalam ajang sains bergengsi tingkat dunia yang diikuti oleh peserta dari 13 negara, dengan 111 tim hadir langsung di Bali. (nas)
Medan, MPOL -Luar biasa, Santri Baitul Mustaghfirin Al Amir benar-benar membuktikan bahwa pondok pesantren bukan saja arena menuntu ilmu, khususnya ilmu keagamaan Islam. Tapi juga prestas di bidang science. Baru baru ini, tim santri dari Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir ini berhasil menggondol medali perak di ajang sains bergengsi tingkat dunia yang diikuti oleh peserta dari 13 negara, dengan 111 tim hadir langsung di Bali dan 200 lebih tim berkompetisi secara online

Baca Juga:
Gugah Dunia Pendidikan
Di tengah gemerlapnya Bali International Science Fair 2026, langkah para santri dari Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir tak hanya mencuri perhatian, tapi juga menorehkan prestasi. Tim santri ini berhasil membawa pulang Silver Medal di ajang sains bergengsi tingkat dunia yang diikuti oleh peserta dari 13 negara, dengan 111 tim hadir langsung di Bali dan 200 lebih tim berkompetisi secara online. Dari panggung internasional inilah, para santri membuktikan: pesantren bukan hanya tempat mengaji, tapi juga lahirnya inovasi sains kelas dunia.

Prestasi Silver Medal ini diraih berkat DALIcious, sebuah inovasi pangan yang lahir dari kegelisahan. Di Indonesia, 28.500 ton keju diimpor setiap tahun dengan nilai 132 juta dolar. Padahal, Nusantara punya Dali ni horbo, "keju Batak" warisan leluhur dari Sumatera Utara yang kaya protein 12,5 gram, kalsium 145 mg, dan probiotik alami. Sayangnya, hanya 23% anak muda yang masih mengonsumsinya karena rasa asamnya yang terlalu kuat untuk lidah Gen Z.

Berangkat dari nilai pesantren "melestarikan tradisi dengan inovasi", tim santri ini menyulap dali ni horbo menjadi kroket modern. Keju impor diganti dengan susu kerbau fermentasi lokal. Hasilnya bukan sekadar makanan, tapi solusi yang diakui dunia. Uji ke 30 siswa menghasilkan skor 4,43 dari 5 dengan kategori 'Suka'. Saat dipasarkan di kantin pondok, 150 buah ludes 100% dalam 5 hari, dengan minat beli ulang mencapai 4,7 dari 5. Dengan harga Rp 5.000, produk ini balik modal hanya dalam 15 buah — bukti nyata bahwa riset santri feasible, scalable, dan layak Silver Medal.

Raihan Silver Medal ini menegaskan pesan DALIcious untuk dunia. Pertama, menjawab dengan menawarkan sumber protein-kalsium lokal untuk cegah stunting yang jadi masalah global. Kedua, mendukung dengan membuktikan bahwa diversifikasi pangan lokal bisa mengurangi ketergantungan impor yang dialami banyak negara. Ketiga menyelamatkan budaya: di tengah data UNESCO bahwa 1 budaya punah tiap 2 minggu, para santri ini memodernisasi warisan 100 tahun agar diterima Gen Z global.

Di hadapan 111 tim hebat dari berbagai benua, Silver Medal untuk DALIcious adalah bukti bahwa santri bisa jadi saintis, kearifan lokal bisa jadi solusi global, dan inovasi halal adalah bahasa universal. Dari pesantren di Indonesia, mereka akan melangkah ke tahap selanjutnya: uji lab, sertifikasi halal internasional, dan pengemasan yang lebih baik agar DALIcious bisa ke meja makan dunia.

Bagi Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir, Silver Medal di Bali International Science Fair 2026 ini bukan akhir, tapi awal. Ini bukti bahwa dari balik dinding pesantren, lahir gagasan berprestasi yang siap menjawab tantangan dunia: malnutrisi, krisis pangan, dan punahnya budaya. Piala boleh perak, tapi dampaknya emas. (nas)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru