Rabu, 21 Oktober 2026

915 Catatan Raptor Migran Melintas di Megamendung, Kab Bogor: Menjaga Persinggahan, Merawat Masa Depan

Redaksi - Rabu, 21 Oktober 2026 19:26 WIB
915 Catatan Raptor Migran Melintas di Megamendung, Kab Bogor: Menjaga Persinggahan, Merawat Masa Depan
Kegiatan Megamendung Bird Migration Watch 2026, 16–18 Oktober 2026 mencatat 915 pengamatan terhadap tiga jenis raptor migran.(ist)
Bogor, MPOL -Megamendung Kabupaten Bogor menjadi salah satu kawasan penting dalam jalur migrasi burung pemangsa. Pada kegiatan Megamendung Bird Migration Watch 2026, 16–18 Oktober 2026 mencatat 915 pengamatan terhadap tiga jenis raptor migran.Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Paseban bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia (RAIN) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengetahuan mengenai migrasi burung (Eastern Asia Flyway), sekaligus mendorong perlindungan habitat persinggahan di kawasan Megamendung, sebelum mereka melanjutkan migrasinya sampai ke Bali.

Baca Juga:
Ketua Umum Yayasan Paseban, Wahdi Azmi, menyampaikan bahwa burung migran merupakan pengingat akan keterhubungan ekosistem lintas wilayah dan bahkan lintas beberapa negara. Burung pemangsa bermigrasi melalui dua koridor. Koridor utama timur (East Asian Continental Flyway), bergerak dari tenggara Siberia melalui timur China dan utaraIndonesia, Semenanjuang Malaysia, dan berakhir di Jawa, Bali, Lombok.


Koridor ke dua, Koridor Pasific (East Asian Oceanic Flyway), mereka bergerak dari Kepulauan Jepang dan Taiwan, ke selatan Filipina, dan berakhir di Sunda Besar. Jalur ini merupakan lintasan badan air paling banyak.

Melalui kegiatan ini, kita menyambut para musafir langit yang melintasi benua dan menembus cakrawala. Kita mengamati dan mencatat mereka, tetapi sadarlah, sesungguhnya mereka juga sedang mencatat apa yang telah kita perbuat terhadap alam kita. Lelah mereka terbang ribuan kilometer seolah sirna ketika habitat alami yang hijau masih menanti.

"Namun, bayangkan jika surga yang mereka tuju telah berubah menjadi tanah tandus, dilalap kerakusan manusia. Jangan sampai mereka masih memiliki sayap untuk terbang, tetapi tak lagi memiliki hutan untuk pulang," ujar Wahdi.

Dari total catatan tersebut, tercatat 828 pengamatan elang-alap Cina (Accipiter soloensis), 76 pengamatan sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), dan 11 pengamatan elang-alap Nipon (Accipiter gularis).

Angka tersebut merupakan catatan pengamatan selama kegiatan, bukan jumlah pasti individu burung yang berbeda. Selain raptor migran, peserta juga mencatat jenis burung migran lainnya, 54 jenis burung lokal, serta beragam jenis amfibi dan reptil.

Pengamatan lapangan juga menjumpai raptor penetap, antara lain elang-ular bido (Spilornis cheela), elang hitam (Ictinaetus malaiensis) dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Temuan ini memperlihatkan pentingnya kawasan Megamendung, tidak hanya bagi burung yang melintasi jalur migrasi, tetapi juga bagi satwa liar yang bergantung pada ekosistem setempat.

Rangkaian kegiatan dilengkapi dengan sesi edukasi dan diskusi. Ady Kristanto, Direktur Konservasi Yayasan Paseban, menyampaikan materi mengenai migrasi burung dan posisi Indonesia sebagai kawasan persinggahan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Jalaluddin Lase
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru