Kamis, 14 Mei 2026

Arisa Bayi Mungil Penderita Jantung Bocor Yang Diabaikan Bupati Deliserdang Akhirnya Sampai Di RS Jantung Jakarta, Berharap Uluran Tangan Yang baik ha

Josmarlin Tambunan - Kamis, 14 Mei 2026 18:42 WIB
Arisa Bayi Mungil Penderita Jantung Bocor Yang Diabaikan Bupati Deliserdang Akhirnya Sampai Di RS Jantung Jakarta, Berharap Uluran Tangan Yang baik ha
Arisha Zainaba br Nasution dalam pangkuan ibunya.(dok)
Jakarta, MPOL:Arisha Zainaba Nasution bayi mungil penderita Jantung Bocor warga Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara akhirnya memberanikan diri berangkat ke Jakarta untuk me dapat pertolongan medis di RS Jantung.

Baca Juga:
Harapan dan bantuan dari Pemkab Deli Serdang tak kunjung datang. Bahkan surat yang dikirim.jr Bupati Deli Serdang walau sudah sampai di mejanya, tak ada respon.

Arisha Zainaba Nasution, didampingi ibu nya Rohana Br Barus berangkat dari Bandara KNIA Menuju Jakarta pada (12/3/2026) dengan biaya dan perlengkapan seadanya.

Kini, Bayi mungil yang setiap hari harus merintih kesakitan dan menunggu datangnya pertolongan dan perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara itu akhirnya sampai di Jakarta pada (13/5/2026). Arisha langsung dibawa ke RS Jantung di Jln Matraman Raya,Jakarta Timur, Kota Jakarta. guna mendapat perawatan serius dari dokter spesialis jantung.

Rohana br Barus kepada wartawan melalui panggilan Whatsapp-nya pada Kamis (14/5/2026) sore setibanya di RS jantung Jakarta mengatakan, sesampainya di rumah sakit jantung Jakarta pada (13/5/2026) kemarin, Arisha langsung ditangani oleh dr. Dedi Wilson, dokter spesialis jantung. Di Rumah sakit itu, dr. Dedi yang menangani Arisha mengatakan bahwa Arisha sudah mengalami sakit yang cukup serius.

"Sakit yang dialami Arisha bukan hanya ada di jantung saja, namun sudah merambah keparu," kata Rohana yang disampaikan Dr Dedi di RS Jantung Jakarta.

"Menurut dr. Dedi saat dilihat dari echo mengatakan penyakit Arisha ini sudah cukup serius,
Karena terdapat banyak penumpukan darah,karna saat dilihat dari depan tidak tampak parunya, kalau diintip dari bawah baru terlihat,kata dr. Dedi yang menangani Arisha," ujar Rohana mengulangi ucaban dr Dedi.

Rohana juga mengatakan, bahwa dr. Dedi juga sempat mengusulkan agar Arisha dirujuk ke RSCM untuk mendapat perawatan Gizi, namun Rohana Br Barus sempat bermohon agar Arisha tidak dirujuk lagi, karena Rohana menceritakan kondisi ekonomi nya, bahkan ia mengatakan kepada dr. Dedi untuk sampai di Jakarta saja ia mendapatkan bantuan dari para orang baik yang ada di medan.

Sehingga, saat itu dr. Dedi langsung membatalkan rujukan terhadap Arisha Zainaba Nasution, dan meminta agar Rohana Boru Barus dapat membawa Arisha kembali pada (19/5/2026) untuk bertemu dengan Dokter bedahnya.

Rohana Boru Barus, menuliskan jeritan hatinya melalui sosial media.

"Mohon bantu sebarkan tulisan ini seluas-luasnya, hingga suara saya sebagai seorang ibu yang berjuang mati-matian demi nyawa anak saya ini terdengar sampai ke telinga siapa saja yang seharusnya hadir membantu, namun justru membuat harapan kami hancur berkeping-keping. Tulisan ini adalah luapan rasa sakit, kekecewaan, dan juga amarah saya—amarah seorang ibu yang melihat anaknya sendiri diperlakukan seolah hanya benda sepele, tidak berharga, dan dianggap tidak penting di mata mereka yang memegang kekuasaan dan wewenang untuk menolong".

Saya adalah ibu dari Arisha, seorang masyarakat kecil yang sedang berjuang sekuat tenaga melawan penyakit jantung bawaan yang dideritanya sejak lahir. Sejak hari pertama mengetahui kondisi anak saya, seluruh hidup saya berubah total; setiap detik, setiap napas, dan setiap langkah saya hanya tertuju pada satu hal: bagaimana caranya agar Arisha bisa sembuh, bisa bernapas lega, dan bisa hidup seperti anak-anak lainnya.

Apakah salah jika seorang bayi yang masih polos dan belum mengerti apa-apa hanya berharap satu hal sederhana: bisa sehat, bisa berlari-larian di halaman rumah, bisa bermain bersama teman sebayanya, dan bisa tumbuh besar dengan bahagia tanpa harus setiap hari merasakan sakit yang menyiksa di dadanya?? Impian kecil itu, yang bagi orang lain mungkin terasa sangat biasa dan mudah didapatkan, bagi kami rasanya seperti mimpi yang begitu jauh, bahkan rasanya hanya dijadikan bahan lelucon bagi mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

Sering kali saya bertanya dalam hati, sambil menatap wajah anak saya yang sedang tidur dengan napas yang tersengal-sengal: *Apakah anakku tidak pantas diperjuangkan? Apakah nyawa Arisha tidak berharga sampai-sampai dunia yang berkuasa ini hanya melihatnya dengan sebelah mata?*? Rasa sedih itu terkadang begitu berat menindih dada saya, hingga rasanya saya tidak sanggup lagi berdiri, namun saya sadar—saya adalah satu-satunya tempat bergantung Arisha. Kalau saya menyerah, siapa lagi yang akan berjuang untuknya?

Sekitar satu bulan yang lalu, tim medis dari RSUD Adam Malik Medan menyampaikan kabar yang sangat berat sekaligus tegas kepada saya. Dokter berkata: "Bu, kondisi Arisha sudah tidak bisa ditangani lagi di sini. Ibu harus segera merujuk Arisha ke Rumah Sakit Jantung Jakarta, karena di sanalah fasilitas dan penanganan yang tepat tersedia untuk menyelamatkan nyawanya."

Saat itu, saya bertanya kembali, berusaha mencari jalan lain yang lebih ringan bagi kami yang hidupnya pas-pasan: "Dok, apakah tidak mungkin penanganan ini dilakukan di sini saja? Saya takut, kami tidak punya biaya untuk pergi ke Jakarta." Namun jawaban dokter sangat tegas dan menyayat hati: *"Keadaan Arisha sekarang sudah tidak memungkinkan lagi untuk menunda atau menunggu lebih lama, Bu. Penanganan harus segera dilakukan di Jakarta, jika tidak, risiko bagi nyawanya akan semakin besar."*?

Hati saya hancur seketika mendengarnya. Saya sadar, dokter hanya berusaha menyelamatkan anak saya, tapi di sisi lain, saya berdiri di sana dengan tangan kosong, tanpa uang sepeser pun, tanpa tabungan, tanpa persiapan apa-apa. Saya tidak punya dana untuk tiket perjalanan, tidak punya biaya untuk makan dan tempat tinggal selama berobat di Jakarta, apalagi untuk biaya pengobatan yang nilainya pasti sangat besar. Dengan berurai air mata, saya memohon kepada pihak rumah sakit agar memberi kami sedikit waktu—waktu untuk mencari bantuan, waktu untuk mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, waktu agar kami tidak harus berangkat dengan tangan hampa sepenuhnya.

Kemudian, ada seseorang yang bekerja sebagai relawan kesehatan yang menyarankan saya: "Coba Ibu lapor dulu ke kantor desa, sampaikan kondisi anak Ibu. Biasanya desa akan mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Sosial, pasti akan ada bantuan yang diberikan." Mendengar itu, harapan saya kembali tumbuh. Saya langsung bergegas melapor ke Kantor Desa Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, Dusun 2.

Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah desa saat itu, tanggapan mereka sangat cepat dan penuh perhatian. Mereka langsung mengurus semua berkas permohonan bantuan saya dengan teliti, lalu mengajukannya secara resmi ke Dinas Sosial Kabupaten Deli Serdang. Bahkan Kepala Desa beserta petugas PTSK Patumbak bersedia mengantar kami langsung ke kantor Dinas Sosial, saat kami dipanggil untuk hadir dalam undangan pertemuan di sana.

Di kantor Dinas Sosial itulah, kami diberi janji besar dan harapan yang begitu indah. Petugas di sana berkata dengan pasti: "Tenang saja Bu, kami akan bantu. Kami akan usulkan bantuan berupa tiket pesawat pulang-pergi untuk Ibu dan Arisha. Pengajuannya akan kami teruskan ke Baznas, dan insyaallah pasti keluar. Nanti kami kabari lagi."

Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah kegelapan yang kami alami. Saya pun menunggu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Setiap kali ada pesan masuk di HP, saya selalu berharap itu kabar baik dari Dinsos. Namun, surat kepastian itu, kabar pencairan itu, atau tiket pesawat yang dijanjikan itu, tidak pernah datang. Padahal, waktu terus berjalan, dan tanggal rujukan pengobatan anak saya semakin mendekat.


Saya ingin semua orang tahu pesan ini: **#jangan remehkan amarah seorang ibu yang berjuang untuk anaknya.**?

Kisah ini bahkan sudah sampai langsung ke meja kerja Bapak Bupati Deli Serdang. Saya sudah berusaha melaporkan, minta pertolongan, dan minta perhatian. Tapi apa hasilnya? Nol. Kosong. Tidak ada solusi, tidak ada tindakan nyata, tidak ada perhatian apa pun.

Yang lebih menyakitkan dan membuat saya merasa sangat terhina adalah perlakuan dari pihak Dinas Sosial. Bukannya mendapatkan solusi atau penjelasan yang jujur, saya malah disuruh berbohong! Mereka menyuruh saya untuk menyampaikan kabar palsu demi keamanan dan kenyamanan posisi mereka sendiri. Disuruh berbohong… di saat yang sama anak saya sedang terbaring sakit, sedang membutuhkan pertolongan nyawa, sedang menunggu kami berangkat berobat.?

Memang benar, saya orang miskin. Saya orang yang sangat susah. Saya saat ini sangat, sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan dari kalian yang berkuasa.? Tapi ingatlah satu hal: #jangan ajari saya berbohong di atas rasa sakit anak saya ??

Saya masih punya hati nurani. Saya masih tahu mana yang benar dan mana yang salah. Saya masih paham mana kewajiban yang harus dijalankan, dan mana yang merupakan penipuan yang dilarang agama dan kemanusiaan. Saya pernah melontarkan pertanyaan tegas kepada mereka: "Maaf Pak/Bu, seorang petugas pemerintahan yang jujur dan berintegritas, tidak akan pernah menyuruh rakyatnya berutang yang tidak sanggup dibayar, dan apalagi tidak akan pernah menyuruh rakyatnya untuk berdusta. Saya ibu biasa, tapi saya tidak buta hukum dan tidak buta moral."

Kondisi Arisha semakin kritis, kami tidak bisa menunda lagi. Surat rujukan sudah habis masa berlakunya jika diperpanjang, dan jadwal temu dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Jantung Jakarta sudah ditetapkan yaitu tanggal 13 Mei 2026. Karena itu, kami terpaksa harus berangkat pada tanggal 12 Mei 2026, dengan segala keterbatasan yang ada. Perjalanan ini kami lakukan berkat uluran tangan dari orang-orang baik, orang yang punya hati dan rasa empati yang tulus melihat penderitaan Arisha, bukan dari bantuan yang dijanjikan pemerintah yang tak kunjung ada wujudnya.

Melalui curhatan panjang ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya:

- Kepada seluruh jajaran Pemerintahan Desa Patumbak Dusun 2, yang dari awal sudah sigap membantu dan mengurus segala administrasi kami.
- Kepada Bapak Rahmat Tarigan (Ketua Karang Taruna Kecamatan Biru-biru), Bapak Dandenintel Kodam 1/BB, Perusahaan PT Key Key Pancur Baru dan semua pihak baik yang sudah membantu langkah kami.? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membalas kebaikan kalian berlipat ganda, dan memberikan kesuksesan serta kesehatan selalu untuk kalian sekalian.
- Tidak lupa juga untuk seluruh keluarga besar kami yang selalu mendukung, mendoakan, dan menemani dalam suka maupun duka.

Terakhir, saya ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh jajaran Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang Terkhusus kepada Bapak Bupati Yang di usung oleh Partai Gerindra Partainya Bapak Presiden Prabowo yang perduli terhadap anak anak Indonesia :
*"Jadilah pemimpin yang benar-benar punya rasa empati yang tinggi, jadilah pemimpin yang merasakan penderitaan rakyatnya seperti penderitaan sendiri, dan jadilah pemimpin yang benar-benar hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Jika memang kalian tidak sanggup atau tidak bisa membantu kami, tolong jangan pernah memberi harapan palsu. Jangan beri janji manis yang akhirnya menjadi luka yang mendalam bagi kami yang sedang berjuang mempertahankan nyawa anak kami. Karena harapan yang dihancurkan di saat paling sulit, rasanya jauh lebih sakit daripada tidak dibantu sama sekali."* Presiden Prabowo membuat program makan bergizi geratis untuk anak anak Indonesia, dengan tujuan dan harapan agar anak anak Indonesia sehat dan cerdas. Sementara anak saya sakit butuh perhatian dari tangan pemerintah tapi pemerintah yang dipimpin Bupati pilihan Partai Gerindra ini tak mencerminkan pemikiran presiden prabowo, sehingga bagi saya bupati ini tak layak jadi seorang pemimpin di deliserdang. ??

Sekian keluh kesah dan cerita panjang dari saya, seorang ibu biasa yang sedang berjuang mati-matian demi kesembuhan anak tercinta. Terima kasih banyak telah bersedia mendengarkan dan membaca sampai selesai. Tulis Rohana Boru Barus Ibu dari Arisha Zainaba Nasution.**

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Josmarlin Tambunan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru