Kamis, 14 Mei 2026

Tanoto Foundation Berkomitmen Gerakan Pendidikan Kolaboratif

Hendro - Jumat, 08 Mei 2026 18:43 WIB
Tanoto Foundation Berkomitmen Gerakan Pendidikan Kolaboratif
Medan, MPOL - Sumatera Utara kini berdiri di persimpangan jalan transformasi pendidikan guna menghadapi tantangan fundamental dalam pembangunan manusia, yakni rendahnya tingkat literasi dan numerasi. Dalam sebuah dialog publik yang digelar Tanoto Foundation Provinsi Sumatera Utara di Medan pada Kamis, 7 Mei 2026, terungkap bahwa kekayaan budaya dan geografis yang membentang dari pesisir hingga pegunungan masih menyisakan ketimpangan akses pendidikan yang nyata antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Baca Juga:

Mutazar selaku Communications and Media Tanoto Foundation Provinsi Sumatera Utara menjelaskan bahwa peningkatan literasi di wilayah ini bukan sekadar upaya memberantas buta aksara, melainkan tentang membangun kedalaman pemahaman dan daya kritis masyarakat. Ia menyoroti perbedaan fasilitas pendidikan yang kontras antara Kota Medan dengan daerah pelosok seperti Nias dan pegunungan Bukit Barisan.

Rendahnya minat baca juga menjadi persoalan krusial di tengah gempuran arus informasi digital, di mana buku sering kali kalah bersaing dengan perangkat telepon genggam sebagai hiburan instan. Menurut Mutazar, dibutuhkan kehadiran guru yang tidak hanya mengajar, tetapi mampu menjadi inspirator literasi yang kreatif bagi para siswa.

"Kami di Tanoto Foundation berkomitmen pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Tantangan literasi dan numerasi yang besar masih menjadi persoalan mendasar, mendorong kami melakukan inisiasi partisipasi semesta untuk pendidikan bermutu melalui kolaborasi multipihak," paparnya.

Pentingnya Kenaikan Skor Literasi dan Numerasi Nasional

Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva, menegaskan identitas lembaga tersebut sebagai yayasan filantropi independen yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Ia menekankan bahwa pendidikan dengan kualitas yang baik merupakan kunci untuk menciptakan kesetaraan peluang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data OECD tahun 2022, capaian skor literasi siswa di Indonesia baru mencapai 25 persen, sementara di bidang matematika atau numerasi hanya sebesar 19 persen yang memenuhi kriteria. Medi mengingatkan bahwa kegagalan meningkatkan skor ini secara signifikan akan berdampak buruk pada masa depan bangsa.

"Dampaknya adalah kita tidak akan bisa memanfaatkan bonus demografi dan menuju Indonesia Emas 2045. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar untuk kecakapan hidup," tegasnya.

Terkait pemilihan lokasi dialog publik yang dilakukan di ruang terbuka, Medi menjelaskan bahwa hal tersebut bertujuan untuk membangun suasana yang inklusif dan tidak eksklusif. Ia ingin membangun semangat gotong royong melalui obrolan santai serupa suasana di warung kopi agar semua elemen masyarakat merasa terlibat.

Keberhasilan Model Gerakan Literasi di Pematangsiantar

Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang, membagikan keberhasilan kotanya dalam mendongkrak indeks literasi. Pada tahun 2023, Pematangsiantar tercatat memiliki angka literasi yang cukup rendah, namun melalui intervensi yang tepat, kota ini berhasil mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 30 poin menjadi 89,92.

Salah satu inovasi yang dilakukan adalah mewajibkan seluruh siswa untuk membaca selama 15 menit sebelum memulai pelajaran, kemudian menceritakan kembali isi bacaan tersebut. Kebijakan ini diperkuat melalui penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang gerakan literasi yang juga mencakup monitoring rutin di sekolah-sekolah.

"Kami tanyakan Tanoto punya tidak backup untuk membantu kami menjadikan beberapa guru sebagai role model untuk gerakan literasi yang baru saja kami canangkan. Muncullah ide ini, 20 orang fasilitator daerah yang berasal dari guru ASN membutuhkan ruang untuk berkreasi guna mewujudkan regulasi ini," beber Junaedi.

Kenaikan ini juga terlihat pada tingkat pendidikan menengah, di mana skor literasi SMP pada 2024 mencapai 79, serta SD meningkat dari 67,45 menjadi 76,52. Kehadiran regulasi ini juga memicu tumbuhnya komunitas literasi di tengah masyarakat yang turut meminta fasilitas pojok baca dan sarana pendukung hingga ke tingkat kelurahan.

Peran Balai Bahasa dan Dukungan Finansial Komunitas

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Dr. Asrif, menyepakati bahwa gerakan literasi harus dilakukan secara kolaboratif, fokus, dan berkelanjutan. Sejak tahun 2022, Balai Bahasa telah mendata 125 komunitas literasi di Sumatera Utara dan memberikan bimbingan agar organisasi mereka menjadi lebih mapan.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Balai Bahasa menyediakan bantuan dana sebesar 50 juta rupiah per tahun bagi komunitas literasi dan komunitas sastra yang memiliki administrasi sehat. Dukungan finansial ini dianggap penting karena semangat saja tidak cukup untuk menjalankan program di tengah masyarakat.

"Tujuannya apa? Mereka punya niat yang luar biasa tetapi tidak punya dana. Maka kami membantu portofolio lembaga mereka supaya sehat serta memberikan bantuan anggaran agar mereka dapat membantu para guru melalui gerakan komunitas," tutur Asrif.

Program ini telah menghasilkan 177 penulis di Sumatera Utara yang diharapkan dapat merangsang penyebaran literasi hingga ke wilayah perbatasan seperti Pakpak Bharat. Balai Bahasa juga fokus pada penerbitan buku anak dalam dua bahasa, yakni bahasa daerah (seperti Karo, Pakpak, atau Sibolga) dan bahasa Indonesia, lengkap dengan visualisasi budaya lokal Sumatera Utara guna menarik minat baca anak sejak dini.

Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, jurnalis, dan komunitas, momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi Sumatera Utara untuk mewujudkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dunia melalui penguatan literasi dan numerasi secara menyeluruh.(Dro).

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Baringin MH Pulungan
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru